RADARTUBAN- Siapa yang tidak kenal dengan nama Polytron? Merek elektronik kebanggaan asli Indonesia ini sudah puluhan tahun menemani keluarga di berbagai pelosok tanah air.
Mulai dari produk televisi yang gambarnya terkenal jernih, mesin cuci yang tangguh, kulkas yang dinginnya awet, sampai dengan pendingin ruangan atau AC yang selalu laris manis di pasaran.
Semua produk rumah tangga tersebut terbukti awet dan sukses memenangkan hati konsumen lokal.
Tapi, di tengah kesuksesan gemilang tersebut, pernahkah Anda sadar atau sekadar bertanya-tanya dalam hati: kenapa nasib yang sama tidak menular ke produk ponsel pintar atau smartphone mereka?
Padahal, Polytron sempat ikut nyebur meramaikan pasar gawai ini dengan penuh percaya diri beberapa tahun yang lalu.
Misteri ini perlahan terjawab jika kita melihat sejarah dan pergeseran ekosistem industrinya.
Dilansir dari tayangan video di kanal YouTube NayonetID dengan tajuk "Kenapa HP Polytron Tidak Sesukses Tv-nya? Ini Alasannya!", kegagalan raksasa elektronik lokal ini di kancah ponsel pintar rupanya dipengaruhi oleh banyak faktor yang cukup kompleks di lapangan.
Pada mulanya, berdirinya merek Polytron dan fokus bisnis mereka memang murni berpusat pada peralatan elektronik rumah tangga.
Namun, sekitar tahun 2010, tren teknologi dunia mulai bergeser secara masif. Masyarakat perlahan mulai meninggalkan feature phone (ponsel biasa) dan beralih menggunakan smartphone.
Melihat peluang pasar yang sangat gurih ini, Polytron pun akhirnya memutuskan untuk ikut bergabung meracik ponsel pintar.
Keseriusan Polytron saat itu dibuktikan dengan meluncurkan berbagai seri smartphone untuk menyasar beragam segmen pasar.
Beberapa di antaranya yang sempat mengudara dan meramaikan etalase toko adalah seri Zap, Rocket, Prime, hingga seri Zoom. Untuk semakin mendongkrak penjualan deretan seri andalan tersebut, mereka mengambil langkah awal yang sangat memanjakan kantong.
Dikutip dari ulasan di kanal tersebut," Yang menarik, Polytron pernah bikin layanan bernama cicilan Polytron. Orang bisa pulang bawa smartphone lewat skema pembayaran bertahap tanpa kartu kredit," Strategi marketing ini jelas diambil untuk menarik minat masyarakat kelas menengah ke bawah agar bisa mencicipi teknologi ponsel buatan dalam negeri dengan lebih mudah.
Sayangnya, industri ponsel pintar tidak berjalan dengan tempo yang sama seperti industri televisi atau kulkas. Di sinilah letak permasalahan mendasarnya.
Baca Juga: KPK Sita Dokumen dan Barang Bukti Elektronik dari Penggeledahan Dua Direktorat DJP Kemenkeu
Pergerakan inovasi di dunia smartphone itu sangat cepat. Hari ini sebuah chipset terbaru diluncurkan, hanya dalam hitungan beberapa bulan saja sudah muncul penerusnya. Belum lagi urusan kualitas lensa kamera, ketajaman layar, hingga sistem operasi yang terus berkembang tiap tahunnya.
Hal ini jelas berbeda jauh dengan Kulkas ; di mana barang yang Anda beli hari ini spesifikasinya masih terasa sangat relevan walau dipakai sampai lima tahun ke depan.
Tantangan yang dihadapi Polytron semakin berat ketika brand-brand asal China mulai melakukan invasi ke pasar Indonesia. Merek-merek agresif seperti Xiaomi, Lenovo Zenfone, Oppo, Vivo, hingga Advan datang menawarkan inovasi yang sulit ditolak: harga yang sangat ekonomis namun dibekali dengan spesifikasi yang sangat memadai.
Di tengah ketatnya persaingan tersebut, pergerakan Polytron justru terasa lambat. Pilihan model ponsel yang diluncurkan sangat terbatas, ditambah promosi yang terkesan seadanya membuat penggunanya nyaris tidak terdengar sama sekali.
Pembeli yang melek teknologi pun mulai teliti membandingkan spesifikasi HP Polytron dengan brand lain di harga yang sama, dan acapkali hasilnya dianggap tertinggal.
Banyak konsumen pada akhirnya lebih percaya membelanjakan uangnya pada brand HP yang dari awal memang sudah bergerak di bidang smartphone, daripada Polytron yang baru merintis bidang tersebut dari nol.
Selain itu, muncul masalah besar dari sisi ekosistem. Ponsel pintar zaman sekarang bukan lagi sekadar jualan perangkat keras. Orang-orang sangat peduli pada kualitas kamera lewat pembaruan software, kestabilan sistem operasi, keamanan, fitur AI, layanan cloud, hingga dukungan aplikasi pihak ketiga.
Untuk menghadirkan ekosistem digital ini, butuh investasi besar dan tim pengembang yang terus bekerja. Bagi sekelas perusahaan lokal, hal ini jelas menjadi beban operasional yang berat.
Pada akhirnya, pasar memang memiliki tantangannya sendiri yang berbeda-beda. Mundurnya Polytron dari panasnya industri ponsel bukan berarti produk HP yang mereka buat itu jelek secara kualitas fungsi dasar, melainkan karena ada faktor adaptasi ekosistem yang terlampau berat.
Walau begitu, sampai detik ini, Polytron masih tetap berdiri gagah sebagai merek elektronik rumah tangga terbesar yang asli dari Indonesia. Kegagalan di satu bidang tak lantas menghapus fakta bahwa mereka adalah jagoan yang tangguh di ruang tamu dan dapur keluarga Nusantara. (*)
Editor : Hardiyati Budi AnggraeniSumber : YouTube NayonetID