AI Terlalu Mahal, Perusahaan Global Mulai Pertimbangkan Memperkerjakan Manusia Lagi

Vannya Alysa P • Dipublikasikan Rabu, 19 Agustus 2026 | 18:26 WIB
Server pada pusat data korporasi yang mengolah jutaan token kecerdasan buatan setiap harinya. (Magnific)
Server pada pusat data korporasi yang mengolah jutaan token kecerdasan buatan setiap harinya. (Magnific)

RADARTUBAN — Gelombang kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) yang awalnya dielu-elukan sebagai solusi efisiensi anggaran perusahaan, kini berbalik menjadi beban finansial yang amat besar.

Sejumlah perusahaan teknologi papan atas seperti Microsoft, Uber, Amazon, hingga Meta dilaporkan mulai membatasi penggunaan alat AI akibat membengkaknya tagihan operasional yang bahkan melampaui biaya pengadaan tenaga kerja manusia.

Fenomena ini dipicu oleh tren internal di kalangan korporasi yang dikenal sebagai "token maxing".

Praktik ini bermula ketika manajemen perusahaan mendorong karyawan untuk mengadopsi AI secara massif sebagai indikator kinerja utama.

Akibatnya, para pekerja menggunakan token AI secara berlebihan bahkan untuk tugas-tugas sepele guna memperlihatkan tingkat produktivitas yang tinggi di akhir bulan.

Baca Juga: Strategi Menumbuhkan Minat Belajar Siswa di Era Kecerdasan Buatan dengan Peran Guru yang Tetap Krusial

Penggunaan token yang terinflasi secara artifisial ini mengakibatkan lonjakan konsumsi daya komputasi di berbagai sektor bisnis.

​"Karyawan di berbagai industri mulai mengonsumsi token AI secara berlebihan bahkan untuk tugas-tugas sepele hanya untuk memperlihatkan tingkat efisiensi dan produktivitas yang tinggi di akhir bulan," dikutip dari kanal YouTube Economy Media.

Penggunaan token yang terinflasi secara artifisial ini mengakibatkan lonjakan konsumsi daya komputasi yang sangat tajam di berbagai sektor bisnis.

Kenaikan biaya token juga dipengaruhi oleh terbatasnya pasokan infrastruktur pendukung, seperti cloud dan pusat data. Menurut laporan Finansial Bloomberg, rata-rata biaya per juta token pada Large Language Models (LLM) mengalami lonjakan signifikan.

Situasi tersebut diperparah dengan pembatalan dan penundaan hampir separuh proyek pembangunan data center di Amerika Serikat akibat kelangkaan komponen elektronik.

​Kondisi ini memberi dorongan pendapatan masif bagi pengembang model AI seperti Anthropic dan OpenAI. Namun, sebagian besar analis menilai model bisnis tersebut masih ditopang oleh subsidi dana investor.

Ketika penyedia layanan AI bersiap melantai di bursa saham (Initial Public Offering/IPO), penyesuaian harga token menuju tarif normal diprediksi akan terjadi, yang berpotensi melipatgandakan beban pengeluaran para pelanggan korporat.

​Ekspektasi bahwa kecerdasan buatan dapat menggantikan tenaga kerja manusia secara murah dan efisien mulai menghadapi realitas ekonomi yang kompleks.

Inflasi biaya token yang dipicu oleh perilaku adopsi yang tidak efisien, keterbatasan infrastruktur, serta berakhirnya era subsidi bagi pengembang AI, memaksa korporasi global mengevaluasi kembali strategi digitalisasi mereka. (*)

Editor : Hardiyati Budi Anggraeni
Sumber : Youtube Economy Media
AI kecerdasan buatan efisiensi manusia