Dulu Sebesar Lemari Cuma 5 MB, Kini Cip Seukuran Kuku Bisa Tampung 2 Terabyte Data

Vannya Alysa P • Dipublikasikan Jumat, 4 September 2026 | 15:43 WIB
​Perangkat penyimpanan data IBM 305 RAMAC berkapasitas 5 Megabyte (MB) saat dipindahkan pada tahun 1956. Memori seukuran lemari pakaian ini menjadi tonggak awal evolusi media penyimpanan data digital modern. (youtube.com/ Fajrul Fx)
​Perangkat penyimpanan data IBM 305 RAMAC berkapasitas 5 Megabyte (MB) saat dipindahkan pada tahun 1956. Memori seukuran lemari pakaian ini menjadi tonggak awal evolusi media penyimpanan data digital modern. (youtube.com/ Fajrul Fx)

RADARTUBAN — Inovasi media penyimpan data digital (data storage) mencatatkan lompatan sejarah yang terbilang fantastis. 

Perangkat keras penyimpan data yang dahulunya membutuhkan ruang seukuran lemari pakaian, kini telah berevolusi menjadi cip semikonduktor berukuran kuku jari, hingga merambah ranah molekul biologis DNA.

Teknologi penyimpan data modern saat ini sanggup menampung miliaran dokumen digital dalam wujud fisik yang makin ringkas. Transformasi ini menjadi bukti pesatnya efisiensi teknologi dari masa ke masa.

Baca Juga: Perusahaan Teknologi Australia Siap Investasi AI di Barelang, Batam Bakal Punya Klaster Terbesar Asia Tenggara

Awal Mula Sistem Biner Lewat Kartu Berlubang

Awal mula riwayat penyimpanan data dimulai pada era 1928, saat IBM mempopulerkan sistem punch card atau kartu berlubang. Teknologi perintis ini mengandalkan pola lubang kertas untuk menyandi angka biner "1" dan area utuh untuk angka "0".

Meskipun sempat menjadi standar industri, punch card memiliki keterbatasan fatal. Kertas ini hanya bisa digunakan sekali pakai dan membutuhkan berlembar-lembar kertas hanya untuk menyimpan sedikit instruksi program.

Era IBM RAMAC dan Memori Apollo ke Bulan

Perkembangan berlanjut ke era elektromagnetik melalui kemunculan magnetic tape dan magnetic core memory. Inovasi core memory yang memanfaatkan anyaman kawat dan magnet menjadi cikal bakal Random Access Memory (RAM).

Sistem ini memungkinkan pembacaan data secara acak tanpa harus berurutan. Teknologi inilah yang kelak menopang keandalan Apollo Guidance Computer dalam misi pendaratan manusia pertama di Bulan.

Tahun 1956 menjadi tonggak penting berkat peluncuran hard disk pertama di dunia, yakni IBM 305 RAMAC (Random Access Method of Accounting and Control). Perangkat raksasa berbobot ratusan kilogram ini sejatinya hanya berkapasitas 5 Megabyte (MB).

Kanal YouTube edukasi teknologi Fajrul Fx membeberkan bahwa besarnya ukuran IBM RAMAC disebabkan oleh struktur mekanis internal yang digunakannya.

"Di dalam IBM RAMAC ini ada 50 piringan magnetik yang masing-masing berdiameter sekitar 60 sentimeter yang ditumpuk secara vertikal," ujar konten kreator dalam tayangan video tersebut.

Dekade berikutnya ditandai dengan era miniaturisasi fisik media penyimpanan. Publik mulai mengenal disket (floppy disk), diska padat (CD), hingga DVD yang jauh lebih praktis. 

Revolusi SSD: Bebas Komponen Mekanis Bergerak

Memasuki millenium baru pada dekade 2000-an, industri memori mengalami revolusi besar lewat kehadiran Solid State Drive (SSD) dan MicroSD. Perangkat baru ini merombak total teknologi sebelumnya karena tak lagi mengandalkan komponen mekanis yang bergerak.

SSD bekerja dengan cara menjebak elektron di dalam sel-sel mikroskopis berukuran 50 nanometer pada cip semikonduktor. 

Hasilnya, memori seukuran kuku jari dewasa kini mampu menampung data hingga 2 Terabyte (TB) atau sekitar satu juta kali lipat lebih besar dibandingkan kapasitas IBM 305 RAMAC.

DNA Biologis Jadi Media Penyimpan Data Abadi

Evolusi penyimpanan data nyatanya tidak berhenti pada bahan silikon. Para ilmuwan kini mulai mengembangkan molekul biologis DNA sebagai media penyimpanan masa depan dengan kepadatan data ekstra tinggi.

Dengan memanfaatkan empat basa nitrogen (Adenin, Sitosin, Guanin, dan Timin), molekul DNA sanggup menyandi informasi digital melebihi kemampuan sistem biner konvensional.

Secara teoritis, satu gram molekul DNA diperkirakan mampu menyimpan hingga 215 Petabyte data. 

Walau proses sintesis dan pembacaannya saat ini masih membutuhkan biaya besar serta waktu yang lama, teknologi DNA berpotensi kuat menjadi media arsip data abadi di masa mendatang. (*)

Editor : Shafa Dina Hayuning Mentari
ibm ramac penyimpan data data digital data storage teknologi