RADARTUBAN - Pemerintah China membangun infrastruktur pengawasan massal berskala masif dengan memasang lebih dari 500 juta kamera pengawas berbasis kecerdasan buatan (AI) di seluruh kawasan perkotaan hingga pedesaan.
Jaringan pemantauan visual terdepan di dunia ini mampu melacak pergerakan warga selama 24 jam penuh.
Infrastruktur ini ditopang dua program utama, yakni proyek Skynet di wilayah perkotaan dan proyek Sharp Eyes yang menjangkau pemukiman pedesaan.
Baca Juga: Gen Alpha Disebut Alami Krisis Literasi Akibat Gawai, Benarkah Teknologi Jadi Penyebabnya?
Terintegrasi Sistem Pengenalan Wajah dan Big Data
Kedua sistem pengawasan tersebut mengintegrasikan algoritma pengenalan wajah, pemindaian pola berjalan, hingga analisis data besar (big data) secara real-time.
Melalui teknologi sistem pemantauan ini, sistem tak hanya mampu mengenali identitas fisik seseorang dalam hitungan detik, tetapi juga mengaitkannya langsung dengan riwayat medis, transaksi keuangan, dan catatan perjalanan transportasi.
Skor Kepatuhan Warga dan Sanksi Sosial
Meski berpotensi meningkatkan efisiensi penekanan angka kriminalitas serta pelacakan buronan, teknologi ini diintegrasikan dengan sistem penilaian perilaku warga.
Tindakan seperti melanggar lalu lintas, membuang sampah sembarangan, hingga menyebarkan kritik di media sosial dapat mengurangi poin skor kepatuhan individu.
Warga yang memiliki skor rendah harus bersiap menghadapi sanksi sosial.
Pembatasan akses transportasi umum, penolakan aplikasi pinjaman bank, hingga larangan mendaftarkan anak ke sekolah favorit menjadi konsekuensi atas pengurangan poin tersebut.
Alat Tata Kelola Sosial dan Ancaman Privasi
"Sistem pemantauan ini bukan sekadar alat pelacak kejahatan melainkan instrumen tata kelola sosial yang mengawasi serta membentuk perilaku masyarakat secara real time di seluruh pelosok negeri," bunyi narasi dalam tayangan dokumenter kanal YouTube Kendati Demikian.
Di balik klaim stabilitas keamanan dan ketertiban umum, jaringan pengawasan raksasa ini menuai sorotan tajam terkait isu privasi serta keterbukaan informasi.
Ancaman kebocoran data sensitif warga akibat kesalahan konfigurasi sistem turut menjadi persoalan serius, memperlihatkan bagaimana teknologi AI menjadi pisau bermata dua bagi kebebasan individu. (*)
Editor : Shafa Dina Hayuning Mentari