RADARTUBAN - Aplikasi jejaring sosial dan kumpulan game kasual HAGO sempat menjadi fenomena besar di industri digital Indonesia saat pertama kali diluncurkan pada pertengahan 2018.
Kombinasi permainan sederhana seperti Adu Domba, Ludo, hingga Pohon Uang dengan fitur interaksi obrolan suara (voice chat) berhasil membawa HAGO menduduki posisi teratas di Google Play Store dan App Store Indonesia.
Namun, kejayaan tersebut terbukti tak berlangsung lama. Hanya dalam kurun waktu beberapa tahun, popularitas platform berbasis komunitas ini merosot tajam.
Kegagalan pihak pengelola dalam memoderasi ekosistem pengguna dan mengantisipasi kejenuhan pasar menjadi faktor utama redupnya HAGO di tanah air.
Analisis mendalam mengenai fenomena ini diulas oleh kanal YouTube Nongskuy. Dalam pembahasannya, dijelaskan bahwa daya tarik utama HAGO pada awalnya terletak pada aksesibilitasnya yang sangat tinggi dan ukuran aplikasi yang terbilang ringan tanpa membutuhkan unduhan data besar.
Baca Juga: Umbi Yakon Viral di Media Sosial, Petani Wonosobo Kembangkan 16 Hektare hingga Jadi Produk Turunan
"HAGO hadir menawarkan sesuatu yang sangat disukai pengguna Indonesia pada masanya, yaitu game ringan yang bisa dimainkan bersama teman sambil berkenalan lewat obrolan suara secara gratis," ungkap analisis dalam tayangan video tersebut.
Akan tetapi, titik balik penurunan HAGO dimulai ketika fitur sosial voice room dan obrolan grup tidak diimbangi dengan sistem moderasi yang ketat.
Lemahnya pengawasan membuat platform ini marak dengan konten tidak pantas, tindakan perundungan siber (cyberbullying), spam, hingga perilaku toksik dari segelintir oknum pengguna.
"Kurangnya moderasi ketat dari pengembang membuat ruang obrolan terpolusi oleh interaksi yang tidak sehat. Pengguna kasual yang awalnya mencari hiburan justru merasa tidak nyaman dan memilih meninggalkan aplikasi," jelas narasi dalam video analisis tersebut.
Di samping krisis keamanan komunitas, HAGO juga menghadapi persoalan internal terkait minimnya inovasi gameplay.
Pengguna dengan cepat merasa bosan akibat variasi permainan yang terkesan monoton dan kurang pembaruan signifikan.
Faktor eksternal seperti persaingan industri game seluler turut mempercepat penurunan jumlah pengguna aktif HAGO.
Pergeseran tren masyarakat yang mulai beralih ke game bergenre eSports seperti Mobile Legends dan Free Fire, serta populernya platform media sosial lain, membuat HAGO semakin kehilangan daya saingnya di ranah digital.
Kasus meredupnya HAGO memberi pelajaran berharga bagi para pengembang aplikasi di industri kreatif.
Menarik jutaan unduhan pada masa awal peluncuran tidak cukup untuk menjamin keberlanjutan bisnis jika tidak diimbangi dengan moderasi komunitas yang responsif, jaminan rasa aman bagi pengguna, serta inovasi konten yang berkelanjutan.(*)
Editor : Hardiyati Budi Anggraeni