Advertorial Boks Daerah Ekonomi Bisnis Entertainment Hukum & Kriminal Internasional Kesehatan Kolom Lifestyle Nasional Nduk Olahraga Opini Pendidikan Politik & Pemerintahan Teknologi Visual Report Wisata & Kuliner

Keripik Pare Asal Tuban: Pahitnya Hidup Nggak Berlaku Kalau Jadi Camilan

M. Afiqul Adib • Minggu, 18 Mei 2025 | 21:41 WIB

Ilustrasi Kripik Pare
Ilustrasi Kripik Pare

RADARTUBAN- Bagi banyak orang, pare itu musuh bebuyutan waktu kecil. Rasanya pahit, baunya pun nggak mengundang selera.

Tapi siapa sangka, dari tangan dingin sepasang suami istri asal Tuban, pare justru naik kelas jadi camilan renyah yang nggak cuma laris di pasar lokal, tapi juga sampai diekspor ke luar negeri.

Adalah Sofan Afandi, 54, dan Kayami, 45, warga Desa Margosuko, Kecamatan Bancar, Tuban, yang sukses membuktikan bahwa segala sesuatu bisa jadi peluang asal tahu cara ngolahnya.

Sejak akhir 2019, keduanya serius menggeluti usaha camilan rumahan dengan berbagai jenis produk. Tapi dari sekian banyak pilihan, keripik pare jadi bintang utamanya.

Nggak tanggung-tanggung, keripik pare buatan mereka bahkan sudah merambah pasar luar negeri, sampai ke Malaysia.

Di dalam negeri, pelanggan dari kota-kota besar seperti Surabaya juga ikut antre. Harga keripiknya pun ramah di kantong: mulai dari Rp10 ribu sampai Rp12 ribu per bungkus.

Kalau camilan lainnya, ada yang dijual dari Rp5 ribu sampai Rp18 ribu tergantung jenis dan ukuran.

Yang bikin salut, bisnis rumahan ini dulunya cuma beromzet sekitar Rp2 juta per bulan.

Tapi sekarang, omzetnya bisa tembus Rp15 juta hingga Rp20 juta per bulan.

Dari dapur kecil di Bancar, kini camilan mereka sudah mejeng di berbagai toko oleh-oleh, hotel, dan bahkan meramaikan pasar online.

Kayami juga sempat dapat bimbingan dari Diskopumdag Tuban dan yayasan Kopernik, yang membantu memperluas jangkauan pasar produk-produknya.

Selain keripik pare, keluarga ini juga memproduksi keripik tempe, keripik tahu, sambal cumi, jahe merah instan, kacang disco, sampai tempe kering.

Tapi tetap saja, si pare yang awalnya dipandang sebelah mata, kini jadi ikon camilan rumah tangga mereka.

Rahasia kenapa keripik pare mereka bisa diterima pasar, padahal pare terkenal pahit? Kayami punya resep khusus untuk mengolahnya.

Teknik perendaman dan bumbunya membuat rasa pahit yang biasanya bikin meringis, berubah jadi gurih dan nagih.

Jadi, yang dulunya males makan pare, sekarang malah rebutan.

Cerita ini bukan cuma tentang camilan, tapi juga tentang kegigihan dan keberanian mencoba hal baru.

Di tengah zaman yang serba cepat dan persaingan pasar yang ketat, Sofan dan Kayami memilih jalur unik: mengolah rasa pahit jadi peluang manis.

Dan yang paling penting: mereka membuktikan bahwa rasa pahit itu bukan akhir dari segalanya.

Kadang, tinggal diolah dengan tepat, diberi sentuhan sabar dan sedikit bumbu rahasia, hidup yang pahit pun bisa renyah dan gurih untuk dinikmati.

Jadi, kalau kamu ke Tuban, jangan cuma cari oleh-oleh yang itu-itu aja. Coba deh cicipin keripik pare dari Bancar ini.

Siapa tahu, selain nemu camilan enak, kamu juga pulang bawa inspirasi buat mulai usaha sendiri. (*)

Editor : Hardiyati Budi Anggraeni
#luar negeri #Tuban #pasar lokal #bangilan #Malaysia #suami istri #Cemilan #Bancar #kripik pare