Advertorial Boks Daerah Ekonomi Bisnis Entertainment Hukum & Kriminal Internasional Kesehatan Kolom Lifestyle Nasional Nduk Olahraga Opini Pendidikan Politik & Pemerintahan Teknologi Visual Report Wisata & Kuliner

Pemasukan Wisata Swasta dan Dikelola Pemkab Tuban, Bagaimana Perbandingannya?

Andreyan (An) • Selasa, 14 Oktober 2025 | 02:14 WIB
Perbandingan pemasukan antara wisata Pemkab Tuban dan swasta yang berbeda.
Perbandingan pemasukan antara wisata Pemkab Tuban dan swasta yang berbeda.

RADARTUBAN - Baik tempat wisata yang dikelola pemerintah daerah maupun swasta, sama-sama memiliki potensi untuk dikembangkan.

Tapi kenapa wisata yang dikelola pemerintah selalu kalah berhasil dibanding wisata yang dikelola swasta atau perorangan?

Di antara tempat wisata yang dikelola Pemkab Tuban, yakni Pantai Boom, Gua Akbar, dan Pemandian Bektiharjo.

Ketiga wisata itulah yang selama ini menjadi tumpuan pendapatan asli daerah (PAD) dari sektor wisata.

Tahun ini, PAD dari ketiga wisata tersebut ditarget sebesar Rp 1,15 miliar. Rinciannya, Pantai Boom (Rp 450 juta), Pemandian Bektiharjo (Rp 440 juta), dan Gua Akbar (Rp 260 juta).

Kendati membandingkan tempat wisata yang dikelola pemerintah daerah dengan tempat wisata yang dikelola pihak swasta bukan hal ideal.

Namun, ketika sama-sama memiliki potensi yang bisa dikembangkan, semestinya pendapatan yang diterima tidak jauh jomplang.

Wisata Pantai Boom dengan Pantai Kelapa, misalnya. Keduanya sama-sama memiliki potensi bahari.

Bahkan, Pantai Boom jauh lebih dulu dikelola sebagai tempat wisata dibanding Pantai Kelapa.

Sekitar 10-15 tahun lalu, pantai di Kelurahan Panyuran, Kecamatan Palang, yang jaraknya hanya sekitar 5 kilometer (km) dari Pantai Boom ini tidak lebih hanya sekadar pantai biasa yang ditumbuhi banyak pohon kelapa. Bahkan, dulunya dipenuhi banyak sampah.

Namun, setelah dikelola secara profesional pada 2017 oleh kelompok sadar wisata (pokdarwis) dan resmi dibuka pada Februari 2018, pantai di sisi utara Jalan Deandles ini berubah menjadi wisata bahari yang sangat eksotis.

Hanya hitungan bulan, pantai yang dulu hanya dijadikan sebagai bumi perkemahaan dan tempat muda-mudi memadu kasih di bawah nyiurnya pohon kelapa, itu menjadi destinasi bahari yang paling banyak dikunjungi.

Tak tanggung-tanggung, kini pendapatan rata-rata per bulan mencapai Rp 600 juta.

Jika dikalikan dalam setahun, maka total pendapatan rata-ratanya mencapai Rp 7,2 miliar.

Jauh melampaui PAD Pantai Boom yang dalam satu tahun hanya ditarget Rp 450 juta, yang sama-sama menjual keindahan pantai.

Lantas, apa yang membedakan tempat wisata yang dikelola pemerintah daerah dan swasta? Meski memiliki potensi yang sama, namun hasil pengelolaannya bak langit dan bumi.

Kepala Dinas Kebudayaan, Kepemudaan, dan Olahraga, serta Pariwisata (Disbudporapar) Tuban M. Emawan Putra mengatakan, ada banyak faktor yang memengaruhi minimnya jumlah kunjungan tempat wisata yang dikelola pemerintah.

‘’Salah satu faktor utamanya adalah tingkat kebersihan dan kelayakan fasilitas penunjang untuk wisatawan,’’ ujarnya.

Di Pantai Boom, terang Emawan, keeksotisannya kurang terpancar seiring masih banyaknya sampah yang memenuhi sepanjang bibir pantai tersebut.

Kondisinya semakin kurang sedap dipandang mata dengan penampakan puing-puing bangunan Pasar Sore yang tak jauh dari lokasi wisata tersebut.

Emawan menuturkan, pihaknya sebetulnya telah memikirkan solusi atau konsep jangka panjang terkait pengelolaan Pantai Boom.

Namun, sampai saat ini konsep tersebut masih sebatas wacana.

Pertama-tama, kata dia, akan melakukan penataan ulang Pasar Sore yang nantinya terkoneksi dengan Pantai Boom.

Letaknya pun strategis dengan Alun-Alun Tuban dan Wisata Religi Sunan Bonang.

‘’Secara perlahan akan mengintegrasikan destinasi strategis tersebut,’’ katanya.

Lebih lanjut dia menyampaikan, sedikit gambaran, ke depannya juga akan terkoneksi dengan wisata Gua Akbar.

‘’Untuk menarik wisatawan datang ke Gua Akbar tentu juga harus menata pedagang di Pasar Baru, jika dikonsep seperti Pasar Wisata tentu akan lebih menarik pengunjung,’’ katanya optimistis.

Terpisah, Ketua Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) Pantai Kelapa, Muhasan mengungkapkan, kendati jumlah kunjungan wisata dalam setahun terakhir ini merosot tajam, namun jumlah pendapatan per hari masih mencapai rata-rata Rp 18-20 juta.

Pada tahun lalu, terang Muhasan, jumlah kunjungan pada hari aktif, Senin-Jumat mencapai kurang lebih 300 orang. Semantara di akhir pekan, Sabtu-Minggu mencapai ribuan.

‘’Pada hari Minggu biasanya mencapai tiga ribu orang. Tapi sekarang ini, bisa mencapai separuhnya saja sudah baik,’’ ujarnya.

Muhasan menerangkan, faktor efisiensi di segala sektor diperkirakan menjadi penyebab utama menurunnya jumlah wisatawan.

Banyak masyarakat yang saat ini lebih berhati-hati dalam mengatur pengeluaran, termasuk untuk berwisata.

‘’Dulu pekerja masih punya pendapatan lebih untuk jalan-jalan di akhir pekan, tapi sekarang banyak yang menahan diri. Itu berimbas ke daya beli dan kunjungan wisata," ungkapnya.

Dampak dari menurunnya jumlah pengunjung turut memengaruhi omzet Pantai Kelapa.

Dia menyebut, omzet yang biasanya mencapai sekitar Rp 30 juta per hari pada masa normal, kini berkurang 50 persen.

Sebab, pemasukan destinasi wisata yang terkenal dengan keindahan pohon-pohon kelapanya tersebut bersumber dari tiket masuk sebesar Rp 10 ribu per orang.

‘’Sebelumnya kalau ramai bisa mencapai Rp 30 juta saat akhir pekan, tapi sekarang hanya setengahnya saja,” kata dia. Namun, sesepi-sepinya Pantai Kelapa, pendapatannya masih jauh melampaui target PAD Pantai Boom.

Pendapatan yang diperoleh tersebut digunakan untuk membiayai berbagai kebutuhan operasional wisata, seperti gaji 120 karyawan, makan minum karyawan, pemeliharaan sarana dan prasarana, dana CSR untuk masyarakat sekitar, hingga pengembangan destinasi wisata itu sendiri.

Lebih lanjut, Muhasan menjelaskan, wisatawan yang datang di hari aktif sebagian besar merupakan rombongan ziarah dari luar kota.

Letak Pantai Kelapa yang strategis, dekat dengan kawasan religi seperti makam Sunan Bonang dan Asmoroqondi, membuat banyak rombongan peziarah singgah untuk beristirahat dan berwisata. Mulai dari Mojokerto, Blitar, Surabaya, Sidoarjo, dan daerah lain.

Sedangkan, wisatawan lokal Tuban biasanya datang untuk kegiatan gathering perusahaan atau sekolah.

‘’Kalau pengunjung Makam Sunan Bonang ramai, kemungkinan pengunjung di Pantai Kelapa juga akan ikut ramai,” ujarnya.

Sebagai upaya menjaga daya tarik wisata, Muhasan menekankan pentingnya penerapan konsep Sapta Pesona di Pantai Kelapa.

Pihaknya berkomitmen menghadirkan kenyamanan dan pengalaman yang berkesan bagi pengunjung.

‘’Kalau wisatawan nyaman, mereka akan terkenang dan ingin datang lagi. Karena itu, kami berusaha menjaga kebersihan, keamanan, dan fasilitas agar tetap baik," tandasnya. (an/saf/tok)

Editor : Yudha Satria Aditama
#Tuban #pad #pemkab #pendapatan asli daerah #Pemandian Bektiharjo #Pantai Boom #Gua Akbar