Advertorial Boks Daerah Ekonomi Bisnis Entertainment Hukum & Kriminal Internasional Kesehatan Kolom Lifestyle Nasional Nduk Olahraga Opini Pendidikan Politik & Pemerintahan Teknologi Visual Report Wisata & Kuliner

Gastrodiplomasi Indonesia: Saat Kuliner Jadi Senjata Lunak Bangsa di Panggung Global

Silva Ayu Triani • Rabu, 15 Oktober 2025 | 19:10 WIB
Dari rendang hingga sambal, kuliner Indonesia kini jadi media diplomasi budaya
Dari rendang hingga sambal, kuliner Indonesia kini jadi media diplomasi budaya

RADARTUBAN - Makanan bukan hanya sumber energi, tapi juga identitas budaya dan alat pemersatu bangsa Indonesia.

Saat menghadapi tantangan sosial dan ekonomi, kuliner tradisional Indonesia memainkan peranan penting yang tidak bisa diabaikan.

Bagaimana makanan dapat menjadi ikatan bersama sekaligus media diplomasi internasional menjadi sorotan utama dalam pemaparan Roby Bagindo.

Dia adalah seorang pengamat kuliner dan konten kreator makanan yang berbagi wawasan dalam sebuah podcast di kanal YouTube Ray Janson Radio.

Indonesia dikenal dengan ragam kuliner yang kaya, terutama rendang yang telah menjadi ikon nasional.

Namun, optimalisasi potensi makanan sebagai alat diplomasi kuliner atau gastrodiplomasi masih terkendala di lapangan.

Program bantuan pemerintah yang seharusnya membantu industri ini belum dirasakan maksimal oleh para pengusaha atau pelaku di lapangan.

Selain itu, materi pelajaran di sekolah kejuruan juga kurang membahas masalah ini, sehingga pekerja kuliner belum punya banyak pengetahuan tentang hal tersebut.

Memberikan pengetahuan kepada pengusaha dan masyarakat umum itu sangat penting.

Ketika pemerintah menaikkan harga bahan pokok seperti gas atau beras, mereka harus memikirkan akibatnya pada warung makan kecil dan pembeli.

Ini menunjukkan betapa pentingnya bagi pembuat kebijakan untuk benar-benar memahami seluruh jalur distribusi makanan.

“Kalau generasi muda ini nanti jadi penentu kebijakan, kalau enggak ngerti impact-nya, kayak naikin harga gas 1.000, bodo amat,” tegas Roby.

Lebih dari itu, gastrodiplomasi sudah bukan monopoli pemerintah saja, tetapi bisa dilakukan oleh siapa pun melalui konten digital dan promosi budaya.

“Gastrodiplomasi sekarang bukan cuma milik negara, tapi kita semua bisa jadi diplomat kuliner lewat konten dan promosi,” ungkapnya.

Dengan demikian, setiap individu memiliki peluang memperkenalkan keunikan kuliner Indonesia ke mancanegara.

Latar belakang kuliner Indonesia adalah hasil perpaduan budaya yang beragam dari berbagai etnis dan sejarah perdagangan yang panjang.

Keanekaragaman ini menjadi kekayaan sekaligus tantangan dalam melestarikan warisan kuliner asli.

Dalam menjaga tradisi tersebut, dibuatkan pula resep mingguan dengan anggaran terjangkau agar masyarakat semakin mudah belajar memasak dengan bahan lokal dan murah.

Fenomena konsumsi makanan praktis dan pesan antar yang makin marak cenderung menjauhkan masyarakat dari pengetahuan tentang asal-usul dan nilai gizi makanan.

Mengatasi hal ini menjadi urgensi agar pola makan sehat dan tradisional tetap terjaga.

Selain itu, Roby menegaskan, “Makanan itu bukan cuma dagangan, tapi identitas bangsa yang harus kita jaga dan lestarikan.”

Pernyataan tersebut menjadi landasan dalam mendorong kolaborasi antara pemerintah dan pelaku industri agar gastrodiplomasi membawa manfaat nyata dan berkelanjutan.

Dengan sinergi antara semua pihak, makanan tradisional Indonesia dapat menjadi kekuatan budaya serta diplomasi yang mendukung posisi Indonesia di tingkat global. (*)

Editor : Hardiyati Budi Anggraeni
#identitas budaya #dunia #makanan indonesia #kuliner indonesia #Indonesia #Gastrodiplomasi #diplomasi