RADARTUBAN - Kecamatan Rembang di Kabupaten Pasuruan, Jawa Timur, dahulu dikenal dengan citra negatif sebagai pusat kawin kontrak, yang menjadi magnet bagi sejumlah pria untuk menikah dengan jangka waktu tertentu.
Fenomena ini telah lama melekat dan menjadi bagian dari sejarah sosial yang kurang menguntungkan bagi daerah tersebut.
Namun kini Rembang bertransformasi menjadi daerah yang bersinar dengan produk unggulan pertanian.
Khususnya mangga klonal 21 yang dikenal sebagai mangga alpukat dan jenis mangga garifta.
Tiga desa di Kecamatan Rembang yakni Oro-oro Ombo, Kulon, dan Orobo Wet telah menjadi sentra produksi mangga alpukat tersebut.
Menurut salah satu warga Desa Oro-oro Ombo, pembibitan mangga klonal 21 dimulai sejak tahun 1994 dan awalnya mendapat persetujuan warga yang selama ini bergantung pada tanaman tradisional seperti padi dan jagung.
Perawatan tanaman yang dulunya serba manual kini sudah banyak terbantu dengan teknologi modern seperti pompa elektrik.
Mangga klonal 21 ini dikenal dengan rasa manis dan tekstur lembut, hampir menyerupai alpukat sehingga dinamakan mangga alpukat.
Pada tahun 2006, manfaat dari budidaya mangga alpukat sudah mulai dirasakan petani dengan panen mencapai 2-3 kali per tahun dan hasil maksimal 60 kilogram per pohon.
Selain itu, mangga garifta yang juga mulai dikembangkan di wilayah tersebut juga mendukung kemajuan pertanian lokal.
Transformasi Rembang turut didukung dengan hadirnya destinasi wisata petik mangga langsung dari pohonnya dan Rest Area Kampung Mangga yang memberikan ruang bagi pengunjung menikmati buah segar.
Hal ini menunjukkan upaya meningkatkan nilai tambah dan diversifikasi ekonomi masyarakat setempat yang sebelumnya dikenal karena praktik kawin kontrak.
Meskipun praktik kawin kontrak di Rembang pernah menjadi fenomena sosial yang kompleks dan dikaitkan dengan masalah ekonomi serta kurangnya pendidikan, kini penurunan jumlah kawin kontrak terlihat signifikan.
Kehadiran industri pertanian mangga alpukat dan garifta membawa angin segar bagi pembangunan ekonomi dan citra positif kawasan ini.
Transformasi Rembang menjadi bukti nyata bagaimana perubahan pola ekonomi dan inovasi pertanian dapat menghapus stigma negatif dan membuka peluang kemajuan baru bagi masyarakat desa yang sebelumnya terbelakang secara sosial dan ekonomi. (*)
Editor : Yudha Satria Aditama