Advertorial Boks Daerah Ekonomi Bisnis Entertainment Hukum & Kriminal Internasional Kesehatan Kolom Lifestyle Nasional Nduk Olahraga Opini Pendidikan Politik & Pemerintahan Teknologi Visual Report Wisata & Kuliner

Hujan Jadi Faktor Penentu Ramai-Sepinya Wisata Alam di Tuban

Yudha Satria Aditama • Selasa, 27 Januari 2026 | 04:30 WIB

 

 

Cuaca tak menentu berdampak pada sektor pariwisata Tuban. Pengunjung Pantai Kelapa dan Silowo menurun saat hujan.
Cuaca tak menentu berdampak pada sektor pariwisata Tuban. Pengunjung Pantai Kelapa dan Silowo menurun saat hujan.

RADARTUBAN - Anomali cuaca pada awal 2026 mulai berdampak terhadap sektor pariwisata di Kabupaten Tuban.

Ketidakpastian cuaca membuat jumlah kunjungan wisatawan bergerak fluktuatif, meski momentum libur panjang masih menjadi andalan para pelaku usaha wisata.

Ketua Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) Pantai Kelapa Muhasan mengatakan, cuaca kini menjadi faktor utama yang menentukan ramai atau sepinya objek wisata. Menurutnya, hujan dapat memangkas jumlah pengunjung hingga 25–50 persen.

“Saat hujan melanda, penurunan bisa mencapai setengah dari total kunjungan normal. Wisatawan cenderung memilih tinggal di rumah saat hujan tiba,” ujarnya saat ditemui di Pantai Kelapa, Minggu (18/1).

Begitu pula yang sudah terlanjur datang. Mereka lebih memilih berteduh di warung-warung dan baru berani beraktivitas di bibir pantai saat hujan mulai reda

Pada hari kerja, jumlah pengunjung Pantai Kelapa berkisar antara 50 hingga 100 orang. Angka itu melonjak pada akhir pekan.

Setiap Sabtu, kunjungan bisa mencapai 500–1.000 orang. Sementara pada Minggu meningkat menjadi 1.500–2.000 orang.

Namun, tidak semua hari libur menunjukkan pola kunjungan yang sama. Muhasan mencontohkan, libur Isra Mikraj pada 16 Januari lalu tidak seramai libur Natal maupun libur nasional lainnya.

“Wisatawan luar kota yang sudah menjadwalkan kunjungan biasanya tetap datang meski hujan. Bagi mereka, Pantai Kelapa sudah jadi tujuan utama maupun tempat mampir yang ikonik,” tambahnya.

Sebagai langkah antisipasi, pengelola Pantai Kelapa mengimbau pengunjung untuk menyiapkan perlengkapan pribadi seperti payung, jas hujan, dan jaket.

Demi keselamatan, wisatawan dilarang berenang di laut saat cuaca buruk dan diarahkan menggunakan fasilitas kolam renang yang tersedia.

Kondisi serupa juga terjadi di objek wisata Silowo. Ketua Pokdarwis Silowo Maliki mengatakan, tren kunjungan pada awal 2026 ini justru lebih rendah dibandingkan periode yang sama pada 2025. Ketidakpastian cuaca diduga menjadi penyebab utama turunnya minat wisata alam.

“Jika cuaca cerah, kami bisa menggaet 200 hingga 300 orang saat long weekend. Tapi kalau hujan turun, jumlahnya merosot hingga separuhnya,” kata Maliki.

Pada hari kerja, jumlah pengunjung Silowo paling banyak hanya sekitar 50 orang. Menurut Maliki, mayoritas pengunjung justru berasal dari luar daerah, seperti Bojonegoro, Blora, Lamongan, Rembang, hingga Gresik.

Para pengelola wisata di Tuban berharap kondisi cuaca segera membaik. Mereka menilai, musim ziarah yang akan datang berpotensi meningkatkan jumlah kunjungan, meski tidak setinggi saat libur panjang sekolah. (saf/ds)

Editor : Yudha Satria Aditama
#wisata #Tuban #kunjungan #cuaca #Suruan Ecopark #Pantai Kelapa