RADARTUBAN - Sebuah tambang garam kuno di Turda, Rumania, berhasil bertransformasi menjadi destinasi wisata unik yang mendunia.
Dikenal dengan nama Salina Turda, lokasi ini merupakan tambang garam berusia lebih dari 2.000 tahun yang kini menjadi taman hiburan bawah tanah futuristik.
Sejarah pertambangan garam di Turda telah berlangsung sejak era Romawi. Aktivitas eksploitasi garam berlangsung berabad-abad sebelum akhirnya dihentikan pada awal abad ke-20.
Alih-alih dibiarkan terbengkalai, pemerintah setempat melakukan revitalisasi besar-besaran dan membuka kembali lokasi tersebut sebagai objek wisata pada 2010, sebagaimana dilaporkan oleh media perjalanan internasional seperti CNN Travel dan BBC Travel.
Di dalam tambang, pengunjung akan menemukan ruang raksasa dengan kedalaman puluhan meter yang dilengkapi fasilitas modern.
Terdapat bianglala mini, lapangan mini golf, arena bowling, bahkan danau bawah tanah yang dapat dijelajahi dengan perahu kecil.
Tata pencahayaan artistik membuat dinding garam berkilau dan menciptakan suasana dramatis sekaligus futuristik.
Salah satu ruang paling terkenal adalah Rudolf Mine, ruang besar berbentuk amfiteater yang kini menjadi pusat aktivitas wisata.
Sementara itu, Terezia Mine memiliki danau bawah tanah dengan pulau kecil di tengahnya yang dapat diakses melalui jembatan dan tangga kayu.
Selain sebagai tempat hiburan, Salina Turda juga dikenal memiliki manfaat kesehatan. Udara di dalam tambang dipercaya mengandung partikel garam mikro yang baik untuk sistem pernapasan, sehingga sering dimanfaatkan sebagai terapi bagi penderita asma atau alergi.
Transformasi Salina Turda menjadi contoh sukses revitalisasi situs industri bersejarah tanpa menghilangkan nilai historisnya.
Kini, destinasi ini menjadi salah satu objek wisata paling populer di Rumania dan sering masuk daftar “tempat wisata paling unik di dunia”.
Perpaduan sejarah kuno, arsitektur modern, dan konsep wisata kreatif menjadikan Salina Turda simbol bagaimana ruang bekas industri dapat diubah menjadi pusat ekonomi dan pariwisata berkelanjutan. (*)
Editor : Yudha Satria Aditama