Advertorial Boks Daerah Ekonomi Bisnis Entertainment Hukum & Kriminal Internasional Kesehatan Kolom Lifestyle Nasional Nduk Olahraga Opini Pendidikan Politik & Pemerintahan Teknologi Visual Report Wisata & Kuliner

Ribuan Keramik Kuno Jadi Bukti Kejayaan Laut Tuban Mendominasi Koleksi Museum Kambang Putih 

Shafa Dina Hayuning Mentari • Minggu, 28 Juni 2026 | 16:03 WIB
Salah seorang pengunjung mengamati koleksi keramik Tiongkok dalam etalase di Museum Kambang Putih Tuban. (SHAFA DINA HAYUNING MENTARI/ RADAR TUBAN)
Salah seorang pengunjung mengamati koleksi keramik Tiongkok dalam etalase di Museum Kambang Putih Tuban. (SHAFA DINA HAYUNING MENTARI/ RADAR TUBAN)

RADARTUBAN – Mengulik sejarah Kabupaten Tuban seolah tidak ada habisnya. Salah satunya koleksi keramik kuno hasil ekskavasi bawah laut yang mendominasi koleksi terbanyak di Museum Kambang Putih Tuban.

ominasi ini menjadi bukti kuat kejayaan Bumi Ronggolawe yang menjadi pelabuhan utama pada era sebelum hingga hingga masa Kerajaan Majapahit sekitar tahun 1300. 

Deni Anto, staf Museum Kambang Putih Tuban mengungkapkan, dari total 5.774 koleksi yang dimiliki museum, hampir 3.000 di antaranya merupakan keramik Tiongkok hasil ekskavasi bawah laut, termasuk fragmen atau pecahannya.

‘’Koleksi keramik Tiongkok yang didapat dari bawah laut menjadi koleksi yang paling banyak di Kambang Putih. Yang paling tua berasal dari abad VII," ujarnya kepada Jawa Pos Radar Tuban, Jumat (26/6).

Baca Juga: Pemkab Tuban Siapkan Museum dan Art Space Rp 39,9 Miliar, Terintegrasi Gua Akbar

Diperkirakan, kala itu, Tuban bukan hanya kota pesisir, melainkan pelabuhan internasional yang sangat besar dan strategis. Letak geografisnya menjadikan kabupaten di pesisir Laut Jawa itu sebagai tempat transit ideal bagi kapal-kapal besar.

 Deni melanjutkan, bukan hanya saudagar Tiongkok yang merapat, namun juga para pedagang dari Arab hingga Eropa yang untuk berdagang. Kondisi ini menjadikan Tuban sebagai pusat pertukaran budaya sekaligus perdagangan dunia.

Uniknya, ribuan keramik yang ditemukan memiliki desain hiasan yang berbeda-beda. Deni menjelaskan, perbedaan visual ini terjadi karena setiap dinasti memiliki keunikan sistem pemerintahan, filosofi, dan perkembangan teknologi desain pada zamannya.

Seperti pada era Dinasti Sung yang memiliki desain cenderung elegan dan fungsional. Benda peninggalannya mendominasi dalam bentuk cawan, jambangan, dan mangkok. Kemudian, Dinasti Tang dan Yuan yang menonjolkan guratan khas yang kuat pada perabot mangkok.

Lalu benda dari Dinasti Ming yang menampilkan detail lukisan biru-putih yang sangat halus pada benda-benda seperti cepuk, cangkir, kendi, hingga tutup wadah. Dan, Dinasti Ching yang memiliki koleksi sendok dengan detail yang lebih modern.

‘’Kebanyakan yang ditemukan memang guci dari Tiongkok, karena komoditas jualan utama mereka kala itu ya guci, cangkir, hingga teko keramik. Bahkan, sampai sekarang yang paling terkenal memang guci Tiongkok," jelas pria asal Kelurahan Sidorejo, Kecamatan Tuban itu.

Deni membeberkan, begitu tingginya nilai historis pada salah satu guci lawas ini, seorang kolektor pernah menawar seharga Rp 90 juta.

Lebih lanjut dia menjelaskan, benda-benda bersejarah tersebut merupakan hasil ekskavasi bawah laut yang dilakukan secara kerja sama dengan sebuah perusahaan sekitar tahun 1989 hingga 1990.

Meski sebagian temuan seperti jangkar raksasa setinggi 8 meter dan benda lainnya diboyong ke Museum Mpu Tantular Surabaya serta pihak perusahaan, sisa kejayaan yang tertinggal di Tuban tetap luar biasa.

‘’Selain keramik Tiongkok, museum juga mengoleksi keramik dari Jepang dan Eropa abad ke-XVIII  yang menjadi koleksi keramik termuda,” tutur Deni.

Baca Juga: Museum Revolusi Bogor: Hutan 3D Bikin Gen Z Ketagihan Ketemu Badak dan Paus Bergerak

Dia meyakini pesona bawah laut Tuban belum sepenuhnya terekspos. Jika ekskavasi kembali dilakukan, kemungkinan besar masih banyak peninggalan berharga yang bisa diangkat dan ditelisik sejarahnya.

 ‘’Bahkan sampai saat ini, nelayan-nelayan di Tuban yang melaut pun tidak jarang mendapatkan guci atau benda bersejarah lain yang ikut terjaring," tandasnya.(saf/ds)  

Editor : Yudha Satria Aditama
#Tuban #pelabuhan #Museum Kambang Putih #kuliner