Bali Terancam Kehilangan Daya Tarik? Sawah Menyusut, Turis Beralih ke Negara Tetangga

Rosiana Dwi Ramadhani • Dipublikasikan Sabtu, 8 Agustus 2026 | 09:10 WIB
Gambar pulau Bali yang terkenal dengan keindahan alamnya. (pinterest.com)
Gambar pulau Bali yang terkenal dengan keindahan alamnya. (pinterest.com)

RADARTUBAN — Pulau Bali merupakan pulau kecil yang memikat puluhan juta orang berkat keindahan alam dan kekayaan budayanya.

Di pulau ini, upacara adat bukan sekadar tontonan temporer bagi turis, melainkan bagian hidup yang tidak dapat dipisahkan dari masyarakat.

Seperti dilansir dari kanal YouTube Kendati Demikian Studio, setiap hari dapat dijumpai canang sari di depan rumah maupun toko sebagai wujud rasa syukur dan doa.

Suara gamelan, wangi dupa, dan pakaian adat menjadi bagian tak terpisahkan dari ritual peribadatan harian.

Dengan segala pesonanya, Bali meraih masa keemasan pariwisata sejak akhir abad ke-20 hingga awal abad ke-21. Para turis berbondong-bondong datang ke Bali.

Pada tahun 2019, tercatat wisatawan mancanegara yang berkunjung mencapai angka sekitar 6,28 juta orang. Bahkan, TripAdvisor menobatkan Bali sebagai destinasi nomor satu dunia untuk tahun 2026.

Baca Juga: Di Balik Maraknya Seblak dan Cilok, Pakar Soroti Fenomena PHK hingga Wirausaha karena Terpaksa

Kesuksesan pariwisata segera menyulap perekonomian Bali. Kontribusinya terhadap Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Bali sangat dominan, mencapai lebih dari 50% dalam beberapa tahun terakhir. 

Menurut Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, lebih dari 1,2 juta penduduk Bali bekerja di sektor pariwisata—mulai dari pegawai hotel, pemandu wisata, sopir, koki, penjual suvenir, hingga profesi pendukung lainnya.

Namun, kejayaan pariwisata menempatkan Bali dan masyarakatnya pada posisi yang sangat rentan. Saking nyamannya, timbul ketergantungan berlebihan yang membuat masa depan pulau ini digantungkan sepenuhnya pada kedatangan turis.

Tragedi Bom Bali pada tahun 2002 dan 2005, letusan Gunung Agung tahun 2017, hingga pandemi Covid-19 pada rentang 2020–2021 sempat melumpuhkan perekonomian daerah ketika jumlah wisatawan merosot tajam.

Pariwisata Bali memang tumbuh pesat, tetapi ibarat bangunan tanpa fondasi yang kuat, gemerlapnya menutupi retakan yang kian melebar.

Data dari Badan Pertanahan Nasional (BPN) Bali mencatat bahwa dalam kurun 2019–2024, Bali kehilangan 6.521 hektar sawah akibat alih fungsi lahan—setara dengan penyusutan 9,2% luas sawah hanya dalam enam tahun.

Kawasan seperti Canggu dan Ubud yang dulu hijau kini dipenuhi deretan vila, beach club, dan pertokoan modern.

Hilangnya ruang hijau memicu bencana banjir, kemacetan lalu lintas yang kian parah, polusi udara, hingga hadirnya komunitas asing yang hidup terisolasi yang memunculkan rasa terasing bagi warga setempat.

Tantangan Bali makin berat ketika melihat persaingan di tingkat regional Asia Tenggara. Thailand, misalnya, sudah lama menjadi raksasa pariwisata.

Baca Juga: Cung Ndhuk Tuban 2026 Resmi Terpilih, Mas Lindra: Saatnya Promosikan Wisata hingga Nasional

Pada tahun 2019, Thailand mampu menarik hampir 40 juta turis asing—jauh melampaui total kunjungan Indonesia sebesar 16 juta orang, di mana 6 juta lebih di antaranya berpusat di Bali. Usai pandemi, Thailand meraih 35,5 juta turis pada 2024 melalui pembenahan infrastruktur dan promosi agresif.

Tak hanya Thailand, Vietnam juga menyalib Indonesia dua tahun berturut-turut. Kunjungan turis asing ke Vietnam melonjak pesat dari hanya 4.000 orang pada 2021 menjadi 12,6 juta di tahun 2023, lalu melesat hingga 17,6 juta pada tahun 2024.

Angka tersebut melampaui pencapaian Indonesia yang pada tahun 2024 hanya mampu menarik 14,3 juta wisatawan asing.

Berbagai persoalan internal di Bali serta ketatnya persaingan dari negara tetangga seperti Thailand dan Vietnam hendaknya menjadi alarm keras. Bali tidak bisa lagi sekadar mengandalkan strategi eksplorasi tanpa batas.

Pulau Dewata membutuhkan reorientasi menuju pariwisata yang berkelanjutan (sustainable tourism)—sebuah konsep yang tak hanya mengejar angka kedatangan turis dan pertumbuhan ekonomi, tetapi juga menjaga kelestarian lingkungan, integritas budaya, serta kesejahteraan masyarakat lokalnya.(*)

Editor : Hardiyati Budi Anggraeni
wisatawan thailand pariwisata vietnam bali