Paradoks Pariwisata Bali: Uang Terus Mengalir, tapi Sawah dan Budaya Terancam Hilang

Nadia Aulia • Dipublikasikan Sabtu, 15 Agustus 2026 | 07:57 WIB
Pertunjukan Tari Kecak menjadi simbol budaya Bali. (pinterest.com)
Pertunjukan Tari Kecak menjadi simbol budaya Bali. (pinterest.com)

RADARTUBAN — Bali hingga kini dikenal sebagai destinasi wisata dunia yang menawarkan keindahan alam sekaligus budaya yang masih hidup.

Namun, di balik besarnya uang yang berputar dari sektor pariwisata, Pulau Dewata menghadapi persoalan serius berupa alih fungsi lahan, krisis lingkungan, hingga ancaman terhadap identitas budaya masyarakat lokalnya.

Dari ulasan kanal YouTube Kendati Demikian, Bali disebut memiliki keunikan karena budaya tidak hanya menjadi tontonan wisatawan, tetapi menjadi bagian dan  dipraktikkan dalam kehidupan sehari-hari.

Oleh karenya Bali sangat Ketergantungan terhadap pariwisata yang membuat sektor ini menjadi tulang punggung perekonomian. 

Pada 2022, PDRB Bali  mencapai sekitar Rp 131 triliun, dengan sekitar Rp 77 triliun atau lebih dari separuhnya berasal dari sektor pariwisata. Lebih dari 1,2 juta penduduk juga bekerja di sektor tersebut.

Baca Juga: Mengapa Kematian Bisa Bikin Keluarga Boncos? Ini Biaya dan Tekanan Sosial di Baliknya

Meski begitu , jika terus  ketergantungan maka akan membuat Bali rentan terhadap guncangan. Bom Bali, bencana alam, hingga pandemi COVID-19 menjadi bukti bahwa ketika wisatawan berhenti datang, perekonomian Bali ikut terpukul.

Pada 2019, kunjungan wisatawan mancanegara mencapai 6,28 juta orang, tetapi turun menjadi sekitar satu juta pada 2020 dan nyaris nol pada 2021.

Hal tersebut  menggambarkan kondisi itu dengan perumpamaan tajam. 

“Ibarat menumpukan semua telur dalam satu keranjang, Bali menggantungkan masa depannya nyaris sepenuhnya pada turis.”

Di sisi lain, pertumbuhan pariwisata turut meningkatkan tekanan terhadap lahan. Berdasarkan data BPN Bali yang dipaparkan dalam video, sekitar 6.521 hektare sawah hilang sepanjang 2019–2024.

Alih fungsi tersebut mengancam keberadaan lahan pertanian sekaligus sistem Subak yang menjadi bagian penting dari identitas budaya Bali.

Persoalan lingkungan juga semakin terlihat dari produksi sampah yang mencapai lebih dari 3.800 ton per hari. Hampir separuhnya disebut belum terkelola dengan baik.

Eksploitasi air tanah, intrusi air laut, serta kemacetan di kawasan wisata turut menjadi konsekuensi pembangunan yang semakin padat.

Keadaan ini memunculkan gambaran ironis mengenai wajah Bali saat ini.

“Bahkan seorang travel writer pernah menyebut Bali kini seperti Jakarta dengan pantai.”

Baca Juga: Balik Nama Tanah Tak Perlu Lama, Nusron Wahid Pangkas Verifikasi BPHTB Jadi 3 Hari

Jika pariwisata terus tumbuh dengan mengorbankan identitasnya, Bali bisa saja tetap ramai dikunjungi, tetapi kehilangan alasan mengapa dunia datang ke sana. 

Di tengah persaingan destinasi wisata Asia Tenggara, Bali tidak cukup hanya mengejar jumlah wisatawan. Sebab, ketika sawah terus menyusut, lingkungan kian terbebani, dan budaya mulai terdesak, yang dipertaruhkan bukan sekadar keberlanjutan pariwisata, melainkan masa depan Bali itu sendiri.(*)

Editor : Hardiyati Budi Anggraeni
Sumber : YouTube Kendati Demikian
destinasi wisata pariwisata budaya bali