Mengenal Kalpataru, Artefak Kayu Jati Kuno di Museum Kambang Putih Tuban

Shafa Dina Hayuning Mentari • Dipublikasikan Senin, 7 September 2026 | 12:21 WIB
Pengunjung mengamati Kalpataru yang ditempatkan pada sebuah lemari kaca di Museum Kambang Putih Tuban, di Jalan KH Mustain. (Radar Tuban)
Pengunjung mengamati Kalpataru yang ditempatkan pada sebuah lemari kaca di Museum Kambang Putih Tuban, di Jalan KH Mustain. (Radar Tuban)

RADARTUBAN — Di balik kaca bening yang kokoh di Ruang Etnografi Museum Kambang Putih Tuban, di Jalan KH Mustain, Kalpataru berdiri sebagai sebuah ikon sejarah yang menjadi salah satu kebanggaan masyarakat Bumi Wali. 

Keberadaa artefak kayu jati kuno yang dipercaya telah ada sejak abad ke-15 ini bukan sekadar peninggalan tua, melainkan simbol penting kejayaan peradaban Islam Nusantara pada masa dakwah Sunan Bonang.

Bagi masyarakat Tuban, Kalpataru menyimpan nilai historis dan spiritual yang sangat mendalam. Artefak ini merekam jejak peradaban seni Jawa-Islam saat ajaran Islam mulai berkembang pesat di wilayah pesisir utara Jawa. 

Baca Juga: Daftar Proyek Besar di Tuban yang Ditunda Hingga 2027, Ada Pantai Boom dan Museum Tuban Space Art

Setiap detail ukirannya yang rumit dan halus mengandung filosofi tentang kehidupan, simbol kesuburan, serta representasi hubungan harmonis antara manusia dan Sang Pencipta.

"Secara historis, keberadaan peninggalan berharga ini bermula dari Pendopo Rante, sebuah tempat yang berlokasi tepat di sebelah barat kompleks Makam Sunan Bonang," ujar Deni Anto, staf museum. 

Sebelum memasuki era 1980-an, masyarakat sekitar dan para peziarah memandang Kalpataru sebagai benda yang sarat dengan aura magis. Kondisi ini membuat lokasi penempatan artefak tersebut sering dialihfungsikan sebagai arena pemujaan atau ritual.

Praktik ritual tersebut ditandai dengan banyaknya peziarah yang datang membawa sajen, membakar dupa, hingga menaburkan uang koin di sekitar kayu jati tua itu. 

Kalpataru disebut pula pohon harapan. Itu karena sebelumnya banyak yang memanjatkan doa di sana. 

Untuk menjaga nilai kelestarian fisik dari kerusakan serta menghentikan praktik pemujaan yang tidak sesuai, pemerintah setempat mengambil langkah penyelamatan. Pada 1984, Kalpataru secara resmi dipindahkan dari lokasi asalnya ke Museum Kambang Putih agar dapat dirawat dan dipelajari.

Jika diamati secara saksama, Kalpataru memiliki struktur unik berupa empat cabang utama yang dipenuhi mahakarya ukiran.

Detail pahatan pada artefak ini mencerminkan tingginya rasa toleransi dan akulturasi budaya pada zaman dahulu. 

"Ukiran-ukirannya memadukan simbol tempat peribadatan dari empat ajaran keagamaan, yakni Islam, Hindu, Buddha, hingga Tri Dharma," tuturnya.

Selain motif keagamaan, Kalpataru juga memuat peninggalan simbolis dari era animisme purba. Salah satunya terlihat pada ukiran arca primitif yang menggambarkan figur manusia dalam posisi jongkok. 

Baca Juga: Sejarah Mushaf Alquran Kertas Daluang Koleksi Museum Kambang Putih Tuban

Peninggalan leluhur semacam ini pada masa pra-Islam digunakan sebagai media pemujaan terhadap arwah para leluhur.

"Keanekaragaman motif Kalpataru makin lengkap dengan kehadiran ukiran unsur alam, seperti rimbunnya pepohonan, serta wujud binatang mitologis seperti singa dan naga," terang Deni. (saf/ds) 

Editor : Yudha Satria Aditama
Sumber : Radar Tuban
Tuban islam Museum Kambang Putih Bumi Wali jawa