RADARTUBAN – Bayangkan pagi dimulai di tengah rimbunnya kebun kelengkeng.
Udara desa masih terasa segar ketika tangan mulai meraih buah-buah yang menggantung di antara dedaunan.
Namun, perjalanan belum selesai.
Dari kebun, wisatawan kemudian diajak menaiki kendaraan jeep. Bukan sekadar berpindah tempat, kendaraan itu membawa mereka menyusuri jalanan desa, menikmati lanskap pedesaan, hingga menuju destinasi wisata berikutnya.
Pengalaman seperti itulah yang mulai dijajaki pelaku wisata di Kabupaten Tuban.
Baca Juga: Wisata Jeep Hadir di Tuban, Wisatawan Bisa Jelajah Kebon Kelengkeng hingga Pantai
Wisatawan tidak lagi hanya datang, berfoto, kemudian pulang. Perjalanan antardestinasi justru menjadi bagian dari pengalaman wisata.
Konsep tersebut salah satunya disiapkan di Agro Wisata Kebon Kelengkeng, Desa Sugihan, Kecamatan Merakurak. Pengelola mencoba merangkai sejumlah destinasi dalam satu perjalanan menggunakan jeep.
Kepala Desa Sugihan Warsito mengatakan, Agro Wisata Kebon Kelengkeng akan menjadi titik awal sekaligus akhir perjalanan. Dari sana, wisatawan diajak menjelajah sejumlah destinasi dengan kendaraan jeep.
“Rutenya sudah kami lakukan percobaan bulan lalu dan sudah kami petakan sejumlah spot kunjungannya,” ujarnya kepada Jawa Pos Radar Tuban.
Perjalanan dimulai dari kebun kelengkeng. Wisatawan bisa merasakan langsung pengalaman memetik buah dari pohonnya.
Setelah puas menikmati suasana kebun, petualangan berlanjut. Jeep membawa wisatawan meninggalkan perkebunan menuju Ecopark Kembang Semi di Kecamatan Merakurak.
Dari sana, perjalanan diteruskan menuju Pantai Semilir di Desa Socorejo, Kecamatan Jenu.
Perjalanan yang menghubungkan daratan dan pantai itu menjadi bagian dari pengalaman yang ditawarkan. Sesampainya di pantai, wisatawan dapat menikmati suasana pesisir sebelum kembali menuju titik awal di Agro Wisata Kebon Kelengkeng.
Baca Juga: Eksplorasi Camden Market London, Kuliner Warung Indonesia Jadi Favorit Wisatawan
Di sana, perjalanan belum benar-benar berakhir. Wisatawan bisa beristirahat sekaligus kembali menikmati aktivitas petik kelengkeng.
“Pengunjung istirahatnya di wisata kelengkeng, sekaligus memetik buah,” imbuhnya.
Bukan Sekadar Jalan-Jalan
Jika rute pertama menawarkan perjalanan antardestinasi, pengelola juga tengah menyiapkan jalur lain bagi wisatawan yang menginginkan pengalaman lebih menantang.
Jalur tersebut berada di sekitar Desa Sugihan. Konsepnya dibuat menyerupai wisata offroad yang banyak dikenal di sejumlah kawasan wisata, seperti Malang dan Yogyakarta.
Jalan tanah menjadi lintasan. Bukan tidak mungkin roda jeep harus berhadapan dengan medan yang lebih berat, termasuk ketika kendaraan melintasi aliran sungai.
Sensasi itu justru yang ingin ditawarkan.
“Jadi ada pertunjukan airnya juga,” jelas Warsito.
Dengan jalur tersebut, perjalanan wisata tidak hanya mengandalkan keindahan destinasi. Perjalanan menuju lokasi pun menjadi atraksi tersendiri.
Ada guncangan kendaraan. Ada jalan tanah. Ada aliran air yang harus dilewati. Dan ada pengalaman yang mungkin tidak didapatkan wisatawan ketika berwisata dengan kendaraan biasa.
Untuk memenuhi kebutuhan armada, pengelola menggandeng salah satu komunitas jeep di Tuban. Kendaraan beserta pengemudinya akan disiapkan ketika wisatawan melakukan reservasi.
Konsep itu sekaligus menjadi upaya pengelola untuk membuat wisata di Tuban tidak berhenti pada pola yang sama.
Bagi Warsito, destinasi wisata harus terus bergerak mengikuti selera pengunjung. Tempat yang hari ini menarik belum tentu tetap menjadi pilihan jika tidak menawarkan pengalaman baru.
Karena itu, inovasi menjadi bagian penting dalam menjaga keberlangsungan wisata.
“Kalau tidak ada perkembangan, wisata bisa tergerus dan dilupakan. Karena itu, kami terus mencoba membuat konsep baru,” pungkasnya.
Kini, konsep wisata jeep tersebut mulai mendapat respons. Dalam waktu dekat, sudah ada wisatawan yang melakukan reservasi untuk menjajal perjalanan.
Barangkali, kelak yang mereka ingat dari perjalanan itu bukan hanya destinasi tempat mereka tiba.
Melainkan juga suara mesin jeep ketika meninggalkan kebun, jalan tanah yang berguncang di bawah roda, percikan air saat melintasi sungai, hingga perjalanan pulang membawa cerita tentang sisi lain Tuban yang belum banyak dijelajahi. (*)
Editor : Yudha Satria AditamaSumber : Radar Tuban