Pesona Wisata Kebun Edukasi di Rengel yang Jadi Langganan Outing Class Sekolah

Andreyan (An) • Dipublikasikan Minggu, 20 September 2026 | 12:09 WIB
Mukromin menyulap lahan 1.300 meter persegi di Rengel menjadi kebun edukasi dengan beragam tanaman, dari jeruk hingga semangka. (Andreyan/Radar Tuban)
Mukromin menyulap lahan 1.300 meter persegi di Rengel menjadi kebun edukasi dengan beragam tanaman, dari jeruk hingga semangka. (Andreyan/Radar Tuban)

RADARTUBAN - Pemandangan rumah dengan halaman yang dipenuhi tanaman sayur dan buah itu terus teringat di benak Mohammad Mukromin.

Saat merantau di Kabupaten Tasikmalaya, Jawa Barat, pada 2023, pemandangan sederhana itu justru menumbuhkan gagasan yang kemudian dibawanya pulang ke kampung halaman.

Mukromin, panggilan akrabanya, tak sekadar pulang membawa pengalaman merantau. Di depan rumahnya di Dusun Pulosari, Desa Prambonwetan, Kecamatan Rengel, dia mulai menyulap lahan menjadi kebun. Bukan sekadar kebun untuk menghasilkan tanaman, tetapi juga tempat belajar bagi anak-anak sekolah.

Saat ditemui Jawa Pos Radar Tuban di kediamannya kemarin (18/9), Mukromin mengisahkan awal ketertarikannya menekuni dunia cocok tanam.

Baca Juga: Sumber Mata Air Krawak Tuban Tak Dibuka untuk Wisata, Netizen: Jujur Gak Ikhlas

Ketika berada di Tasikmalaya, pria 28 itu terpukau melihat rumah-rumah yang halaman depannya dimanfaatkan sebagai kebun sayur dan buah. Pemandangan itu membekas. Dari sanalah muncul keinginan membuat sesuatu yang serupa di kampung halamannya.

Begitu memutuskan berkebun, pepaya california sempat menjadi tanaman yang menarik perhatiannya.

Namun, niat itu urung diwujudkan. Mukromin mulai memikirkan keberlanjutan tanaman yang akan dikembangkan.

Baginya, berkebun bukan sekadar menanam dan memanen. Tanaman yang dipilih harus sesuai dengan konsep kebun yang ingin dikembangkan dalam jangka panjang.

Alumni SMAN 1 Rengel itu kemudian melakukan riset terhadap sejumlah tanaman. Mulai pepaya, jambu, hingga jeruk. Pertimbangannya bukan hanya hasil yang bisa diperoleh, tetapi juga tingkat perawatan serta potensi tanaman untuk dikembangkan. Pilihan akhirnya jatuh pada jeruk.

Sekitar awal 2025, Mukromin mulai menyulap lahan seluas 1.300 meter persegi di depan rumahnya. Sebanyak 70 bibit pohon jeruk ditanam sebagai langkah awal.

Berawal dari pengalaman merantau, Mukromin membangun kebun edukasi di Rengel. Kini sejumlah sekolah mulai berkunjung untuk belajar. (Andreyan/Radar Tuban)
Berawal dari pengalaman merantau, Mukromin membangun kebun edukasi di Rengel. Kini sejumlah sekolah mulai berkunjung untuk belajar. (Andreyan/Radar Tuban)

Namun, kebun itu tidak berhenti pada jeruk. Perlahan, tanaman lain ikut mengisi lahan tersebut. Semangka, alpukat, terong, labu, cabai, pisang, jagung, singkong, dan sejumlah tanaman lain.

Tidak ada pengalaman panjang di bidang pertanian yang menjadi modal awal Mukromin. Dia belajar secara mandiri. Riset pun dilakukan. Mukromin juga mengumpulkan pengalaman dari orang-orang yang ditemuinya untuk bekal merawat kebun.

‘’Jujur, awalnya saya minim pengalaman saat memulai menggarap kebun ini. Hanya berbekal riset dan ilmu dari orang-orang hebat yang saya temui,’’ bebernya.

Baca Juga: Bukan Lagi Tempat Wisata, Ini Alasan Sumber Mata Air Krawak Tuban Tak Dibuka untuk Umum

Kerja keras itu mulai membuahkan hasil. Selama sekitar setahun mengolah kebun, beberapa tanaman telah dipanen berkali-kali. ‘’Semangka sudah tiga kali panen, sedangkan jagung dan singkong masing-masing dua kali. Untuk yang sayuran biasanya saya jual di pasar,’’ ujar dia.

Namun, hasil panen ternyata bukan satu-satunya tujuan Mukromin.

Gagasan lain muncul dari obrolan bersama sejumlah rekannya yang berprofesi sebagai guru di Kecamatan Rengel. Mereka mengeluhkan sulitnya mencari lokasi terdekat untuk kegiatan pembelajaran luar kelas atau outing class dengan tema perkebunan.

Keluhan itu kemudian menjadi peluang. Dari obrolan dan rekomendasi para rekannya, Mukromin memberanikan diri mengembangkan lahan pekarangannya menjadi kebun edukasi.

Kebun yang semula berangkat dari keinginan mengisi aktivitas sepulang merantau itu perlahan memiliki fungsi baru. Anak-anak sekolah mulai datang berkunjung.

‘’Sebetulnya pengembangan kebun ini masih berproses dan masih jauh dari konsep yang saya coba realisasikan. Tapi, alhamdulillah sudah ada beberapa sekolah berkunjung ke sini,’’ kata dia.

Kunjungan tersebut justru membuat semangat Mukromin bertambah. Dia ingin kebun itu ditata lebih baik, sehingga anak-anak yang datang tidak sekadar melihat tanaman.

Ke depan, kebun tersebut diharapkan menjadi ruang belajar yang membuat proses bercocok tanam bisa dilihat secara langsung. Dari bibit, perawatan, hingga panen.

‘’Mulai akan mengupayakan penataan yang lebih baik lagi, Harapannya, nanti anak-anak bisa belajar banyak tentang tanaman, mulai dari proses pembibitan, perawatan, hingga panen,’’ pungkasnya. (an/ds)

Editor : Yudha Satria Aditama
Sumber : Radar Tuban
Outing Class jawa barat Tuban sekolah tasikmalaya