Dumbek Tuban Bertahan 4 Dekade, Resep Warisan ala Haji Sahenan Ini Tetap Dijaga

Andreyan (An) • Dipublikasikan Minggu, 27 September 2026 | 12:25 WIB
Lebih dari empat dekade, dumbek Haji Sahenan Tuban tetap diminati. Pesanan bahkan menjangkau berbagai kota di Jawa hingga Bali. (Andreyan/Radar Tuban)
Lebih dari empat dekade, dumbek Haji Sahenan Tuban tetap diminati. Pesanan bahkan menjangkau berbagai kota di Jawa hingga Bali. (Andreyan/Radar Tuban)

RADARTUBAN - Lebih dari empat dekade, dumbek bermerek Haji Sahenan yang hanya diproduksi keluarga penerusnya di Desa Kesamben, Kecamatan Plumpang masih memiliki tempat di hati penikmat jajanan tradisional Tuban. 

Bagi keluarga Sahenan, dumbek sebenarnya telah hadir jauh sebelum menjadi sumber penghasilan. Jajanan itu sudah menjadi bagian dari kehidupan keluarga, terutama ketika ada hajatan, sedekah bumi, atau tamu yang datang ke rumah.

Dumbek merupakan jajanan khas Tuban yang dibuat dari adonan tepung beras, santan, dan gula merah.

Baca Juga: Bukan Salah Dengar, Begini Kode Bahasa Jawa Khas Tuban yang Unik

Miftahur Rohmah, generasi kedua pembuat dumbek Haji Sahenan menceritakan, awalnya dia dan saudara-saudaranya tidak pernah membayangkan kalau dumbek yang dibuat sang ayah akan menjadi usaha keluarga.

Saat itu, dumbek dibuat untuk kebutuhan sendiri. Bahan pembungkusnya pun mudah diperoleh karena daun lontar tumbuh di sekitar rumah.

‘’Awalnya memang untuk dikonsumsi pribadi. Tidak untuk dijual, karena pada waktu itu memanfaatkan daun lontar yang mudah dijangkau di depan rumah,’’ ujar dia.

Ifa, sapaan akrabnya menuturkan, sekitar 1980-an, seorang tokoh masyarakat desa mendorong agar dumbek buatan ayahnya dijual. Atas dorongan tersebut, ayahnya akhirnya mencoba.  Tempat jualannya  ketika itu Pasar Tuban dan Pasar Rengel.

‘’Karena banyak permintaan, banyak yang kulak di sini untuk dijual kembali,’’ terang dia.

Waktu yang akhirnya membawa dumbek Haji Sahenan kian dikenal. Memasuki tahun 2000-an, permintaan kian meningkat. Pesanan semakin banyak, sementara tenaga produksi tetap terbatas.

Kondisi itu membuat keluarga Sahenan mengubah pola penjualan. Sejak 2018, mereka berhenti berjualan di pasar dan memilih melayani pesanan dari rumah.

‘’Sampai saat ini kita hanya melayani pesanan rumahan. Alhamdulillah konsumen tak berkurang,’’ terang alumni MAN Rengel (sekarang MAN 2 Tuban, Red) itu.

Perubahan cara berjualan tidak membuat jangkauan pasar menyempit. Justru sebaliknya. Perkembangan teknologi dimanfaatkan Ifa untuk memperkenalkan dumbek Haji Sahenan melalui berbagai platform media sosial.

Di luar dugaan, pesanan datang dari berbagai daerah. Untuk pengiriman jarak jauh, dumbek dikemas menggunakan metode vakum agar lebih tahan selama perjalanan.

‘’Packing-nya untuk jarak jauh menggunakan vakum, terbukti awet dan bertahan sampai lima hari. Pemesanan paling banyak biasanya beberapa kota besar di Pulau Jawa dan Bali,’’ terang dia.

Produksi dumbek Haji Sahenan pada hari-hari biasa berkisar 1.000 hingga 2.000 biji per hari. Jumlah itu dapat melonjak beberapa kali lipat ketika Lebaran.

Baca Juga: Klepon Isi Cadbury Viral di Threads, Jajanan Tradisional Ini Tampil Lebih Kekinian

Pada momen tersebut, pesanan bisa mencapai 6.000 biji. Namun, tidak seluruh pesanan dapat dipenuhi. Persoalannya bukan semata kemampuan produksi, melainkan ketersediaan daun lontar sebagai pembungkus dumbek.

‘’Ketika Lebaran, beberapa ada yang terpaksa tidak kami terima,’’ tutur dia.

Empat dekade lebih berlalu, dumbek Haji Sahenan tetap bertahan. Bukan karena mengikuti perubahan rasa, melainkan karena keluarga ini justru menjaga rasa yang diwariskan dari generasi ke generasi.

Terbukti, perpindahan tangan dari satu generasi ke generasi berikutnya tidak mengubah rasa dumbek tersebut.

Resep warisan keluarga tetap dipertahankan. Begitu pula cara pengolahannya.

Menurut Ifa, kualitas bahan dan resep menjadi bagian penting yang terus dipertahankan. Bahkan, cara memasaknya pun tidak sepenuhnya ditinggalkan ketika teknologi pengolahan makanan semakin berkembang.

‘’Sampai saat ini kita tetap pakai kayu bakar, mungkin ini juga yang menjadi salah satu rahasia cita rasanya tetap terjaga,’’ tuturnya.  (an/ds)

Editor : Yudha Satria Aditama
Sumber : Radar Tuban
dumbek plumpang Tuban