RADARTUBAN - Di tengah gempuran gaya hidup anak muda yang cenderung fokus pada pencapaian pribadi, Farah Nahwa Firdaus Figo justru memilih menebarkan manfaat pada sesama melalui berbagai kegiatan volunteer yang ditekuninya.
Sudah sejak empat tahun lalu gadis asal Plumpang, Tuban ini memulai langkahnya sebagai seorang relawan kemanusiaan.
Mulai dari mendampingi penyandang disabilitas netra melalui Persatuan Tuna Netra Indonesia (Pertuni), berlanjut dengan Sobat Bumi Indonesia untuk menyuarakan isu lingkungan, hingga Sahabat Silih Foundation yang fokus pada pemberdayaan perempuan dan perlindungan anak.
‘’Alasannya sederhana, aku ingin hidup yang bermanfaat, bukan hanya nyaman,” ujarnya.
Farah, sapaannya, mengakui, meski terkadang melelahkan saat membagi waktu antara kegiatan pribadinya dengan kegiatan sosial, baginya rasa lelah tersebut memiliki penawar yang unik.
Melihat senyum, semangat, dan proses teman-teman yang dibantunya membuat rasa lelahnya terbayar.
Menurutnya, dari hal tersebut seakan ada kebahagiaan yang tidak tergantikan ketika diri sendiri merasa bermanfaat bagi orang lain.
‘’Menurutku, terjun langsung ke masyarakat merupakan sekolah kehidupan yang paling nyata. Mulai belajar tentang tanggung jawab dan kerja sama yang tidak ditemukan dalam pendidikan formal,” tutur dara 25 tahun itu.
Gadis Virgo ini percaya bahwa perubahan tidak harus dimulai dari langkah yang besar.
Namun, konsistensi dalam tindakan kecil sekalipun dapat memberikan dampak yang nyata.
Menjadi seorang relawan menjadi jalan tersendiri bagi Farah untuk bisa tumbuh sebagai manusia yang lebih peka.
Tidak ketinggalan, mahasiswi jurusan Ilmu Hukum Universitas Sunan Bonang ini turut membagikan tips sederhana untuk mengikuti kegiatan volunteer.
Menurutnya, menjadi relawan bisa dilakukan oleh siapa saja asalkan terdapat kemauan dari dalam diri seseorang itu.
‘’Cukup dengan membuka mata, mau peduli, dan mau terlibat. Rasa kemanusiaan itu akan tumbuh sendiri ketika kita mau mendengar dan memahami,” katanya.
Bagi Farah, kepedulian sosial bukan lagi sebuah beban atau sekadar pengisi waktu luang, melainkan menjadi sebuah kebutuhan hati untuk tetap merasa hidup di tengah dunia yang semakin individualis.
‘’Dari berbagai interaksi sosial selama aku berkecimpung di dunia relawan, aku menyadari bahwa realitas sosial di lapangan seringkali jauh lebih kompleks daripada yang terlihat di media sosial atau bangku perkuliahan,” ujarnya.(saf/ds)
Editor : Yudha Satria Aditama