RADARTUBAN - Selain dikenal sebagai perintis lembaga pendidikan formal di Pondok Pesantren Ash Shomadiyah, almarhum KH Ahmad Syifa’ juga meninggalkan warisan nilai dan keteladanan yang hingga kini terus dijaga oleh keluarga serta para santrinya.
Pesantren yang berlokasi di Dusun Makam Agung, Kelurahan Kingking, Kecamatan Tuban itu telah berdiri lebih dari satu abad.
Di balik kesederhanaan hidupnya, Mbah Syifa’, panggilan akrab KH Ahmad Syifa’ dikenal sebagai ulama dengan pemikiran filosofis yang tercermin melalui pitutur dan laku hidup sehari-hari.
Nilai-nilai tersebut masih menjadi pegangan generasi penerus pesantren.
Salah satu ajaran yang paling kuat dijaga adalah pesan agar ulama dan santri Ash Shomadiyah tidak terlibat dalam politik praktis.
Hal itu disampaikan oleh pengasuh pesantren saat ini, KH Riza Shalihuddin Habibi, ketika ditemui di kompleks pesantren.
“Mbah Syifa’ berpesan, siapa saja yang telah masuk di sini pantang untuk mendekati pendapa,” ujar Gus Riza kepada Jawa Pos Radar Tuban. Pendapa dimaksud merujuk pada simbol kekuasaan pemerintahan daerah.
Menurut Gus Riza, pesan tersebut lahir dari kekhawatiran Mbah Syifa’ agar ilmu dan pengabdian agama tidak tercampur dengan ambisi kekuasaan.
Dia menginginkan generasi pesantren tetap berada pada posisi moral yang independen.
“Mbah Syifa’ ingin para penerusnya menjadi pribadi yang kritis, menjadi pengontrol jalannya pemerintahan ketika ada kebijakan yang melenceng,” katanya.
Petuah itu, lanjut Gus Riza, bukan tanpa pengalaman. Pada masanya, KH Ahmad Syifa’ pernah didorong untuk terjun ke dunia politik maupun pemerintahan.
Namun, tawaran tersebut ditolaknya secara tegas.
“Beliau mengatakan, jika semua ulama masuk politik dan memiliki kekuasaan, maka tidak akan ada lagi yang mengontrol pemerintahan,” ujar Gus Riza.
Selain soal sikap terhadap kekuasaan, Mbah Syifa’ juga meninggalkan pesan terkait tata bangunan di lingkungan pesantren.
Salah satunya adalah larangan membangun gedung bertingkat dengan lantai dak beton yang digunakan sebagai tempat tidur santri.
Larangan itu, menurut Gus Riza, merupakan bentuk penghormatan kepada para penyiar agama Islam terdahulu di Tuban, khususnya Sunan Bonang dan Syekh Ash Shomadiyah, yang makamnya berada di kawasan sekitar pesantren.
“Pesannya, tidak boleh tidur di atas para wali. Kalau bangunan bertingkat dengan alas papan masih diperbolehkan,” ujarnya.
Di balik aturan tersebut, tersimpan pula makna simbolik lainnya. Bangunan tanpa dak beton, kata Gus Riza, menjadi pengingat bahwa segala sesuatu memiliki batas, termasuk beban dan kapasitas yang ditanggung manusia.
“Pesan-pesan mendalam itu sampai hari ini masih kami jaga,” kata Gus Riza.(an/ds)
Editor : Yudha Satria Aditama