Advertorial Boks Daerah Ekonomi Bisnis Entertainment Hukum & Kriminal Internasional Kesehatan Kolom Lifestyle Nasional Nduk Olahraga Opini Pendidikan Politik & Pemerintahan Teknologi Visual Report Wisata & Kuliner

Jejak Dakwah Habib Abdul Qodir bin Alwy Assegaf dari Langgar Kecil hingga Masjid Al-Muhdor

Shafa Dina Hayuning Mentari • Senin, 23 Februari 2026 | 16:30 WIB

 

Metode dakwah yang lembut membuat Habib Abdul Qodir dicintai masyarakat dan dihormati para ulama besar pada masanya.
Metode dakwah yang lembut membuat Habib Abdul Qodir dicintai masyarakat dan dihormati para ulama besar pada masanya.

RADARTUBAN - Persebaran Islam di pusat Kabupaten Tuban tidak dapat dilepaskan dari peran Habib Abdul Qodir bin Alwy Assegaf.

Ulama asal Seiwun, Hadramaut, itu menapaki jalan dakwahnya dari sebuah langgar wakaf kecil yang kelak berkembang menjadi Masjid Al-Muhdor di Jalan Pemuda, Tuban.

Dari tempat inilah transformasi peradaban Islam di kawasan kota mulai menguat pada awal abad ke-20.

imam Masjid Al-Muhdor, Agil Abdumai menuturkan, saat pertama kali tiba di Bumi Wali sekitar tahun 1900, bangunan masjid belum berdiri seperti sekarang. Lokasi tersebut masih berupa langgar sederhana yang kemudian menjadi pusat dakwah Habib Abdul Qodir.

Habib Abdul Qodir menempuh perjalanan panjang dari Hadramaut, Yaman Selatan.

Dia datang tanpa rombongan besar dan tanpa membawa harta benda. Beberapa sahabat turut menyertai.

Salah satunya adalah kakek dari Agil Abdumai sendiri.

Kedatangan beliau kemari murni untuk berdakwah. Tanpa rombongan besar, bahkan tanpa membawa harta benda. Fokusnya hanya untuk menyebarkan dan melengkapi pengetahuan serta ilmu tentang agama Islam kepada masyarakat Tuban, tutur Agil saat ditemui di Masjid Al-Muhdor, Rabu (19/2).

Menurut Agil, masyarakat Tuban saat itu sebenarnya telah mengenal Islam.

Namun, pemahaman keagamaan dan pembentukan akhlak belum mengakar kuat. Tradisi Hindu yang masih kental menjadi tantangan tersendiri.

Dakwah Habib Abdul Qodir pun berlangsung dalam suasana yang tidak mudah dan penuh rintangan.

Ketertarikan Habib Abdul Qodir terhadap Tuban bukan tanpa alasan. Jejak para wali dan ulama serta geliat siar Islam di wilayah pesisir utara Jawa ini menjadi magnet tersendiri. Meski demikian, dia tidak menempuh jalan dakwah yang kaku.

Beliau tidak langsung berceramah tentang Islam saat tiba. Tetapi memilih untuk berbaur terlebih dahulu dengan masyarakat sekitar. Setelah saling mengenal dan terbangun kedekatan emosional, barulah beliau mulai mengajar melalui ceramah dan pengajian-pengajian di masjid ini yang dulu masih berupa langgar kecil, jelas Agil.

Metode dakwah yang santun dan beradab itu merupakan buah didikan pamannya, Habib Abdurrahman bin Ali Assegaf.

Sejak kecil, Habib Abdul Qodir dibekali pendidikan agama yang kuat dan spiritualitas melalui ziarah ke makam para auliya. Bekal itulah yang kemudian Dia terapkan selama bermukim di Bumi Ronggolawe.

Kelembutan sikap dan keluhuran akhlak membuat Habib Abdul Qodir dicintai masyarakat. Dia dikenal ramah, murah senyum, dan dermawan.

Sifat-sifat tersebut menumbuhkan penghormatan dari para ulama besar di masanya dan menarik semakin banyak masyarakat Tuban ke dalam lingkungan dakwahnya.

Salah satu pujian datang dari ulama masyhur Habib Abdullah bin Muhsin Al-Attas yang menggambarkan kekagumannya lewat syair: “Telah bertiup angin segar dari Kota Tuban.” Ungkapan itu menjadi penanda harum nama Habib Abdul Qodir di kalangan para kekasih Allah.

Meski namanya melegenda, hampir tidak ada peninggalan fisik yang tersisa.

Sayangnya tidak ada foto beliau yang tersisa. Padahal sahabat-sahabat beliau, seperti kakek saya setidaknya memiliki satu potret diri. Satu-satunya warisan nyata dari perjuangan beliau ya hanya Masjid Muhdor ini,” ujar Agil.

Di masa senja, Habib Abdul Qodir jatuh sakit. Agil menuturkan kisah spiritual ketika putra beliau, Umar, berupaya mengusahakan kesembuhan melalui sedekah.

Namun, sang ayah justru menenangkan dengan kalimat yang membekas.

Dari kisah yang saya sering dengar, beliau berkata ‘Jangan merepotkan diri, karena Malaikat Maut sudah dua atau tiga kali mendatangiku.’ Kejadian itu kabarnya berlangsung hampir setiap malam, kata Agil menirukan riwayat tersebut.

Suatu hari, ditemukan secarik kertas di dekat beliau berisi pesan, “Telah datang pada kami, Shohibul Waqt, Khidir dan Ilyas. Mereka memberiku kabar gembira seraya berkata, ‘Kau dapatkan hadiah serta pakaian. Jangan takut, jangan khawatir dengan kejahatan orang yang dengki, serta syaitan’.

Pesan itu dipahami sebagai isyarat berakhirnya tugas suci beliau di dunia.

Habib Abdul Qodir bin Alwy Assegaf wafat pada 1912 dan dimakamkan di Desa Bejagung, Kecamatan Semanding, Tuban.

Meski raganya telah tiada dan jejak visual tak tersisa, semangat dakwah dan “angin segar” yang ia hembuskan masih terasa hingga kini dalam kehidupan masyarakat Tuban.(saf/ds)

Editor : Yudha Satria Aditama
#Tuban #jalan Pemuda #habib #jejak