Advertorial Boks Daerah Ekonomi Bisnis Entertainment Hukum & Kriminal Internasional Kesehatan Kolom Lifestyle Nasional Nduk Olahraga Opini Pendidikan Politik & Pemerintahan Teknologi Visual Report Wisata & Kuliner

KH Abdurrahman Sholih, Ulama Manba’ul Huda yang 35 Tahun Mengabdi di NU Tuban

Andreyan (An) • Rabu, 11 Maret 2026 | 17:30 WIB

Para santri Ponpes Manba’ul Huda ketika ziarah ke makam KH Abdurrahman Sholih di Kelurahan Panyuran, Kecamatan Palang.
Para santri Ponpes Manba’ul Huda ketika ziarah ke makam KH Abdurrahman Sholih di Kelurahan Panyuran, Kecamatan Palang.

RADARTUBAN - Semasa hidupnya, KH Abdurrahman Sholih (Mbah Durrahman) mengabdikan diri sepenuhnya untuk pengembangan Islam di Kabupaten Tuban.

Ulama kelahiran 1930 itu tak hanya membesarkan Pondok Pesantren Manba’ul Huda, tetapi juga aktif menggerakkan organisasi Nahdlatul Ulama (NU) di Bumi Wali.

Kiprah tersebut diceritakan oleh putra ketiganya, KH Imam Muharror, saat ditemui di kediamannya di Kelurahan Panyuran, Kecamatan Palang, Minggu (8/3).

Sekitar tahun 1960-an, sepulang dari menimba ilmu di pesantren dan sempat tinggal di rumah mertuanya, KH Anwar, di Desa Banjararum, Kecamatan Rengel, Mbah Durrahman mulai mendedikasikan hidupnya untuk berdakwah. Dia menebarkan ilmu agama kepada masyarakat melalui pengajaran kepada para santri.

“Beliau sejak di Rengel sampai pindah di Panyuran juga aktif berkecimpung dalam organisasi NU di Tuban. Pada masa itu di bawah kepemimpinan KH Murtaji,” jelas Gus Imam—sapaan akrab KH Imam Muharror.

Di tubuh PCNU Tuban, Mbah Durrahman memulai peran sebagai a’wan syuriyah. Amanah itu kemudian meningkat menjadi anggota syuriyah, hingga dipercaya sebagai mustasyar PCNU sampai akhir hayatnya. “Kurang lebih beliau aktif di PCNU selama 35 tahun lebih,” ungkap Gus Imam.

Dalam kiprahnya di organisasi berlogo bintang sembilan tersebut, Mbah Durrahman juga ikut berperan dalam proses pendirian perguruan tinggi di bawah naungan PCNU Tuban. Pada awal berdiri sekitar 1980-an, lembaga itu bernama Universitas Sunan Giri (Unsuri) yang kini berkembang menjadi Institut Agama Islam Nahdlatul Ulama (IAINU) Tuban.

Sebelum pendirian lembaga pendidikan itu terwujud, para ulama PCNU Tuban terlebih dahulu menjalani rangkaian ikhtiar batin. Salah satunya melalui istighotsah rutin setiap malam Jumat Wage di Kantor PCNU Tuban, Jalan Diponegoro.

Dalam majelis tersebut, Mbah Durrahman berkumpul bersama sejumlah ulama lainnya, di antaranya KH Abdullah Fakih dari Ponpes Langitan Widang, KH Fatah dari Plumpang, KH Bisrul Kahfi dari Jenu, serta KH Ahmad Syifa dari Ponpes Ash Shomadiyah.

“Rutinitas itu dijalani cukup lama, sekaligus menjadi perenungan dan ihtiar batin para ulama sebelum mendirikan Unsuri,” ujar Gus Imam.

Selain aktif dalam pengembangan lembaga pendidikan, Mbah Durrahman juga kerap dipercaya menjadi delegasi Kabupaten Tuban dalam forum bahtsul masail di berbagai daerah.

Suatu ketika, rombongan mobil delegasi bahtsul masail dari Tuban pernah mengalami kecelakaan di wilayah Kabupaten Gresik. Namun, musibah itu tak menyurutkan langkahnya.

“Meski mendapat musibah, tak menyurutkan beliau tetap mengikuti bahtsul masail,” terangnya.

Semangat Mbah Durrahman dalam menyebarkan ajaran Islam memang tak pernah padam. Bahkan, ketika kondisi kesehatannya menurun dan suaranya tak lagi jelas untuk melafalkan kata-kata, tekadnya untuk mengajar para santri tetap tak surut. (an/ds)

Editor : Yudha Satria Aditama
#Tuban #pcnu #pondok #ponpes #jejak