RADARTUBAN - Di tengah gempuran tren tari modern yang kian masif di media sosial, Meisya Rofiqoh Putri memilih jalan yang berbeda.
Dia justru mendedikasikan energinya untuk menjaga marwah budaya melalui tari tradisional.
Bagi Putri, menari bukan sekadar hobi, melainkan panggilan jiwa untuk melestarikan warisan leluhur.
Perkenalannya dengan dunia tari tumbuh saat orang tuanya kerap mengajaknya menyaksikan berbagai perhelatan budaya.
Kekaguman pada keindahan kostum dan filosofi gerakan membawanya mulai serius berlatih sejak duduk di bangku kelas satu sekolah dasar.
‘’Awalnya aku terkesan dengan keindahan gerakan dan kostumnya. Kemudian aku mulai belajar dan konsisten tampil di berbagai kegiatan dan acara," ungkap gadis asal Desa Tunah Kecamatan Semanding ini.
Langkah siswi SMKN 2 Tuban ini semakin mantap saat memasuki jenjang SMP.
Dia tidak hanya aktif di ekstrakurikuler sekolah, tetapi juga sempat mengikuti pemilihan Duta Tari Kabupaten Tuban.
Ilmunya tentang berbagai gerak tari tradisional menjadi lebih mendalam saat dia bergabung dengan Sanggar Tari Pringgoyudho pada kelas 9 SMP. Di sana, dia memahami bahwa menari bukan sekadar olah tubuh.
‘’Di sanggar, saya belajar banyak hal. Tari tradisional itu bukan hanya soal gerak, tapi ada aspek wiraga, wirama, dan wirasa. Semuanya harus menyatu agar pesan dalam tarian tersampaikan," jelasnya.
Remaja 17 tahun ini mengakui, bahwa dia lebih menguasai tarian bertipe halusan seperti Tari Gambyong yang menonjolkan kelembutan jemari tangan.
Meski begitu, dia tetap menantang dirinya dengan mempelajari tarian gagahan seperti Tari Remo yang menurutnya memiliki tingkat kesulitan tinggi karena karakter gerakannya yang tegas dan bertenaga.
Dari kiprahnya sejak dini sebagai seorang penari tradisional, Putri telah menunjukkan bakatnya di berbagai acara, mulai dari acara pernikahan, pentas seni di sekolah, hingga mengikuti berbagai perlombaan di tingkat kecamatan, kabupaten, dan provinsi.
Kini, tantangan terbesar yang dia rasakan adalah stigma kuno yang kerap disematkan remaja pada budaya lokal.
Putri merasa prihatin jika generasi muda lebih bangga dengan budaya luar dibanding identitas bangsanya sendiri.
‘’Pesan saya untuk teman-teman sebaya, jangan menganggap budaya tradisional itu kuno. Cobalah pahami nilai dan sejarah di dalamnya. Tari tradisional punya keunikan yang tidak bisa digantikan oleh tarian modern manapun," tegas gadis yang juga memiliki hobi make-up ini.
Melalui penampilannya di berbagai ajang, gadis Taurus ini ingin membuktikan bahwa menjadi penari tradisional adalah hal yang membanggakan.
Dia bertekad terus mendalami bidang ini demi memastikan eksistensi budaya tradisional di Tuban tetap terjaga di tangan generasi muda. (saf)
Editor : Yudha Satria Aditama