
RADARTUBAN- Panitia Olimpiade Koding dan Kecerdasan Artifisial (KKA) mulai mempersiapkan aspek teknis pelaksanaan kompetisi yang dijadwalkan berlangsung pada 28-29 Oktober 2026.
Persiapan dilakukan melalui penginputan data peserta ke aplikasi yang akan digunakan selama olimpiade.
Ketua Panitia Olimpiade KKA Dwi Setiyawan mengatakan, data peserta yang dikirimkan sekolah melalui formulir Excel mulai dimasukkan ke aplikasi sejak dua hari terakhir. Selanjutnya, panitia akan membagikan tautan aplikasi beserta nama pengguna dan kata sandi kepada perwakilan sekolah.
”Aplikasi inilah yang diinstal di smartphone. Untuk petunjuknya, kami akan membagikan video tutorial,” ujar Dwi yang juga menjabat Pemimpin Redaksi Jawa Pos Radar Tuban.
Panitia juga menjadwalkan simulasi selama dua hari, yakni Senin (26/10) dan Selasa (27/10). Menurut Dwi, waktu simulasi dibuat lebih panjang agar peserta memiliki keleluasaan menyesuaikan jadwal dan memahami teknis pelaksanaan sebelum mengikuti kompetisi.
Olimpiade KKA akan berlangsung secara daring dengan menggunakan telepon pintar berbasis sistem operasi Android. Pelaksanaan selama dua hari juga dimaksudkan agar sekolah dapat menyesuaikan waktu pengerjaan dengan agenda kegiatan belajar masing-masing.
Baca Juga: Antusiasme Tinggi, 444 Siswa SMPN 1 Bangilan Ikuti Olimpiade KKA
Dwi menjelaskan, materi olimpiade disusun oleh tim Musyawarah Guru Mata Pelajaran (MGMP) Informatika yang dipimpin Sandi Wihnara. Soal yang disiapkan berjumlah 40 butir, terdiri dari 24 soal pilihan ganda dan 16 soal pilihan ganda kompleks.
Menurut Dwi, penggunaan soal pilihan ganda kompleks bertujuan menguji kecermatan dan ketelitian peserta. Format tersebut juga diharapkan dapat mengurangi kemungkinan munculnya nilai yang sama di antara peserta.
Materi Olimpiade KKA mencakup empat kompetensi utama, yaitu literasi dan etika kecerdasan artifisial, berpikir komputasional, literasi digital, serta pemanfaatan dan pengembangan kecerdasan artifisial. Setiap kompetensi memiliki bobot penilaian berbeda sesuai cakupan materi yang diujikan.
Literasi dan etika kecerdasan artifisial mendapat bobot terbesar, yakni 35 persen. Pada aspek ini, peserta diharapkan memahami prinsip kerja kecerdasan artifisial, keunggulan dan keterbatasannya dibandingkan kemampuan manusia, serta etika penggunaan data pribadi.
Jadilah pembaca setia, gabung sekarang juga di channel kami!





