Program Pelibatan dan Pengembangan Masyarakat (PPM) ExxonMobil Cepu Limited (EMCL) dan SKK Migas


Panen yang Melimpah dan Cerita Ketelatenan Petani Tuban
Bagi Lasminto, tanah bukan sekadar tempat menanam dan memanen. Setelah lebih dari 20 tahun menggarap sawah, ia mulai belajar satu hal: tanah juga perlu dirawat agar tetap memberi kehidupan.
Dari lahan yang dikelolanya di Desa Sumurjalak, Kecamatan Plumpang, Kabupaten Tuban, Jawa Timur, petani berusia 55 tahun itu melihat sesuatu yang perlahan berubah. Tanah terasa semakin keras. Organisme yang dulu mudah dijumpai mulai jarang terlihat.
Sementara itu, kebutuhan pupuk kimia terus mengikuti ongkos produksi yang kian tinggi. Lasminto mengelola sekitar tiga hektare lahan. Sebagian merupakan miliknya. Selebihnya ia sewa.
Padi menjadi tanaman yang paling sering digarapnya. Rutinitas bertahun-tahun di lahan membuatnya terbiasa mengenali perubahan pertumbuhan tanaman, membaca kondisi tanah, sekaligus mengamati gejala awal serangan hama.
Pengalaman di sawah mengajarinya bahwa persoalan pertanian tidak selalu tampak pada tanaman. Tanah yang semakin keras membuatnya berpikir tentang keberlanjutan lahan yang sama.
Sebab, sawah yang digarap hari ini kembali ditanami pada musim berikutnya. Ketergantungan pada pupuk kimia pun mulai ia lihat bukan hanya dari sisi kebutuhan tanaman, tetapi juga dari biaya yang harus terus dikeluarkan.
Dari sana, muncul pertanyaan sederhana, bagaimana menjaga tanah tetap subur tanpa bergantung selamanya pada pupuk kimia?
Jadilah pembaca setia, gabung sekarang juga di channel kami!

