RADARTUBAN – Pengurus Cabang (PC) Fatayat NU Tuban konsisten mengawal isu perempuan dan anak. Untuk mengawal isu tersebut, selama dua hari (28–29 Oktober), para kader Fatayat NU Tuban diikutkan kegiatan capacity building pelatihan LKP3A Lembaga Konsultasi untuk Pemberdayaan Perlindungan Perempuan dan Anak), serta Gafantara dan Difa.
Kegiatan penguatan kapasitas bertajuk Menguat Bersama, Maju Bersama untuk Perempuan Indonesia dan Peradaban Dunia itu berlangsung di Hotel Nirwana Sarangan, Kabupaten Magetan. Pesertanya, 100 kader dari Pengurus Cabang (PC), Pengurus Anak Cabang (PAC) dan ranting se-Kabupaten Tuban.
Ketua PC Fatayat NU Tuban Wahyuni Hidayati mengatakan, kegiatan peningkatan kapasitas kader ini merupakan upaya memaksimalkan peran Fatayat dalam mengawal isu perempuan dan anak. Sebab, mereka merupakan kelompok rentan yang membutuhkan pengawalan.
Disampaikan Mbak Yuni—sapaan akrab Wahyuni Hidayati—dalam kegiatan tersebut, ada tiga bidang prioritas yang menjadi fokus dalam menyusun program pengawalan terhadap isu perempuan dan anak.
Pertama, dari Gerakan Sehat Fatayat NU dan Santri Nusantara (Gafantara). Dari program ini meliputi enam pilar, yakni aksi peduli sanitasi; pola hidup bersih dan sehat; peduli titik kritis halal dan kosmetik; pencegahan stunting; sehat rohani; dan menangkal radikalisme dan kesehatan produksi. ‘’Dari enam pilar tersebut, yang menjadi fokus adalah pencegahan stunting,’’ ujarnya.
Untuk pencegahan itu, kader kesehatan Gafantara dari PC, PAC, dan ranting akan berperan aktif dalam percepatan penanganan stunting.
Lebih lanjut, Mbak Yuni menyampaikan, Fatayat NU akan bersinergi dengan steakholder dalam aksi bergizi dengan pembagian tablet tambah darah pada santri putri dilingkup pondok pesantren. Selanjutnya, aktif melaksanakan sosialisasi pentingnya pola hidup bersih dan sehat, serta pentingnya reproduksi di lingkungan pondok pesantren, lembaga pendidikan dan masyarakat umum.
Kedua, Fatayat NU Tuban juga fokus pada pencegahan pernikahan dini dan pendampingan korban kekerasan terhadap perempuan dan anak. ‘’Untuk program ini kami membentuk kader poling (pondok konseling) dari kecamatan hingga desa,’’ bebernya.
Program-program tersebut, nanti akan turut disokong dengan program dari bidang dakwah. ‘’Dari program ini akan dibentuk daiyah Fatayat NU (Difa). Nantinya, harapannya mampu mengembangkan dakwah di era digital,’’ tandasnya. (fud/tok)
Editor : Muhammad Azlan Syah