Practice makes perfect. Slogan ini benar-benar menggambarkan perjuangan Angga Risky Pratama dalam meraih juara 1 Lomba Kompetisi Siswa (LKS) 2023 nasional. Berkat kegigihannya dalam berlatih, dia akhirnya berhasil menyabet medali emas.
SAAT ini, Angga Risky Pratama sudah menempuh pendidikan perguruan tinggi di Universitas Negeri Surabaya (Unesa) jurusan teknik mesin. Namun, saat mengikuti LKS 2023, dia masih berstatus sebagai siswa SMK Taruna Jawa Prawira (TJP) Tuban.
Mahasiswa yang akrab disapa Angga ini berhasil meraih juara 1 LKS 2023 nasional ke-31 bidang lomba Plastic Die Engineering yang diselenggarakan pada 23-28 Oktober lalu. Capaian prestasi gemilang ini setelah melalui proses yang cukup panjang.
Dari tingkat provinsi hingga nasional. Bersaing dengan ratusan siswa terbaik dari level kabupaten/kota dan provinsi se-Indonesia. Bahkan, sebelum lomba pun sudah melakukan persiapan yang panjang.
Remaja kelahiran Tarakan, Kalimantan Utara menceritakan, awalnya tidak memiliki bayangan bakal mengikuti LKS. Apalagi di bidang plastic die engineering.
Dia baru benar-benar serius memahami bidang yang akan dilombakan setelah ditunjuk mewakili sekolah. Mulanya, Angga mengikuti seleksi di tingkat sekolah. Selanjutnya, kemudian ditunjuk mewakili sekolah ke tingkat provinsi.
Dari situ, dia mulai berlatih setiap hari dengan guru pemimbing, hingga akhirnya juara 1 LKS tingkat Provinsi Jawa Timur di bidang Plastic Die Engineering dan lolos ke tingkat nasional. Saat lolos ke tingkat nasional itulah, anak dari pasangan Rahmat Hidayat dan Sulistini itu menguras tenaga dan pikiran. Sebab, pada saat yang sama, dia juga mempersiapan diri untuk masuk ke universitas.
Selama persiapan menuju LKS nasioal, hampir setiap hari latihan di sekolah. Tidak jarang pulang hingga larut malam.
‘’Paling cepat (pulang, Red) biasanya magrib, tapi kadang sampai pukul sepuluh malam. Kalau dibilang melelehakan, pasti melelahkan.
Tapi saya selalu bersuaha tetap santai. Terpenting, bagaimana membagi waktu dengan baik,’’ ujarnya.
Mahasiswa yang saat ini berdomisili di Desa Ngino, Kecamatan Semanding itu menjelaskan, cabang lomba Plastic Die Engineering adalah kategori lomba manufaktur dan rekayasa teknologi, yakni pembuatan moulding cetakan plastic yang dilakukan dengan cara injection agar terbentuk semua model kerja.
‘’Karena yang dinilai adalah poin-poinnya, seperti desain, ukuran, kehalusan dan kerapian, serta safety K3 (kesehatan dan keselamatan kerja). Maka itu yang benar-benar saya sempurnakan betul. Dan Alhamdulillah berhasil,’’ ungkapnya.
Menurutnya, apa yang dia raih saat ini tidak lepas dari bimbingan para guru dan doa kedua orang tuanya. ‘’Tanpa bapak-ibu guru dan orang tua, saya tidaklah siapa-siapa,’’ tuturnya rendah hati. (zia/tok)