Pembangkit Listrik Tenaga Bayu (PLTB) di Desa Leranwetan, Kecamatan Palang, Kabupaten Tuban beroperasi belum genap satu tahun. Ada banyak pengorbanan dilakukan hingga menemukan energi terbarukan yang bermanfaat bagi petani garam tersebut.
BERMULA 2019, dosen dan mahasiswa Politeknik Negeri Malang (Polinema) mendapatkan tugas untuk melakukan penelitian terkait efektivitas kincir angin sebagai energi terbarukan.
Kabupaten Tuban dipilih menjadi salah satu lokasi sasaran penelitian karena saat itu belum memiliki satu pun PLTB.
Uji coba kincir angin di Laboratorium Polinema dengan menggunakan generator asinkron itu belum langsung membuahkan hasil.
Hasil awal baru terlihat pada tahun berikutnya, itupun juga tak sempurna.
Uji coba selama hampir satu tahun itu tak sepenuhnya mulus karena beberapa kali eksperimen, energi listrik yang dihasilkan hanya mampu digunakan untuk pemakaian ringan.
Seperti men-charger ponsel, lampu penerangan, dan merebus air dengan heater.
Artinya, nyaris mustahil digunakan untuk menghidupkan mesin pompa yang dibutuhkan petani garam.
Reza Dwi Alamsyah, ketua tim penelitian mahasiswa Polinema mengatakan, pada saat penelitian, banyak kegagalan teknis yang ditemukan.
Salah satunya besaran produksi listrik yang dihasilkan generator tidak dapat diketahui.
Tahun 2021, tim melakukan penelitian kecepatan angin di tiga lokasi, yakni Tuban, Madura dan Raja Ampat.
‘’Kami survei cari lokasi dengan angin paling stabil,’’ kata dia.
Di tiga kota tersebut, kata Reza, dilakukan survei di tiga desa yang berbeda.
Hasil akhir menunjukan bahwa intensitas angin di sepanjang pesisir Tuban yang relatif stabil.
Setelah berkomunikasi dengan warga setempat, dipilihlah Desa Leranwetan, Kecamatan Palang sebagai tempat pembangunan PLTB pertama di Tuban.
Selain kecepatan angin yang relatif stabil, mahasiswa semester VI jurusan D-4 Teknik Elektro, Polinema ini mengatakan, Tuban dipilih karena memiliki jumlah petani garam yang cukup banyak.
Selama ini para petani mengeluarkan biaya cukup besar untuk mengalirkan air dari sumber ke tempat jemur.
‘’Sebelumnya, untuk mengalirkan air, para petani menggunakan diesel berbahan bakar solar,’’ tutur dia.
Reza mengatakan, awalnya penelitian itu dilakukan 24 orang mahasiswa.
Namun saking lamanya penelitian tersebut, 15 seniornya tak lagi melanjutkan proyek karena sudah lulus dan bekerja.
Pada 2022, tersisa 9 mahasiswa yang melakukan up grading penelitian prototipe PLTB hingga bekerja sama dengan PT Perusahaan Listrik Negara (PLN) yang dilakukan di kampus Polinema.
Pertengahan 2022, hasil penelitian yang sebelumnya dikerjakan di Po linema dibawa ke Desa Leranwetan untuk dilakukan penelitian faktual lapangan.
Lokasi penelitian berada di tengah tambak garam milik warga setempat.
Penelitian di lokasi tambak dimulai dengan pembangunan rumah energi, pemasangan PLTS dan baterai.
Hasilnya, produksi listrik yang dihasilkan pada saat itu sekitar 16-18 kWh (kilowatt-hour) per hari.
‘’Awalnya, penggunaannya hanya digunakan untuk memenuhi kebutuhan pekerjaan tim, seperti pengggunaan gerinda, bor dan alat kerja lainnya,” ungkap mahasiswa asal Madiun itu.
Pada 2023, penelitian dilanjutkan dengan membangun tower setinggi tujuh meter sebagai laboratorium uji coba dan tower setinggi 24 meter untuk uji coba prototipe.
Hasil uji coba prototipe PLTB mampu menghasilkan daya 10 kw (kilowatt) pada kecepataan angin rata-rata 9,5 meter per second.
‘’Kecepatan angin tertinggi di lokasi terdeteksi 5,35 m/s mampu menghasilkan 76,8 kWh,” terangnya.
Adanya PLTB benar-benar memberi banyak manfaat untuk para petani garam dan warga sekitar tambak.
Daya listrik yang dihasilkan mampu menggerakkan pompa air yang semula menggunakan dua diesel, sekarang tinggal satu.
‘’Selain itu, PLTB juga digunakan untuk penerangan di sekitar tambak,” jelas dia.
Hingga akhir tahun ini, untuk memastikan keamanan, penelitian tersebut masih didampingi PLN.
Setelah berhasil meringankan beban petani garam, proyek tersebut akan menjadi pelopor untuk diperluas agar manfaatnya bisa dirasakan oleh warga sekitar Desa Leranwetan.
‘’Semoga proyek penelitian kami mendapat perhatian Pemkab Tuban, agar ke depannya bisa dirasakan seluruh masyarakat lebih luas,” harap dia. (an/yud)
Editor : Amin Fauzie