RADARTUBAN – Sejak diaktifkan kembali pada 12 Desember lalu, dampak TikTok Shop masih belum dirasakan bagi pelaku usaha mikro kecil dan menengah (UMKM) di Tuban.
Sejauh ini, pelaku UMKM di Tuban belum banyak yang memanfaatkan platform jual beli dari TikTok yang berkolaborasi dengan Tokopedia tersebut.
Kabid UMKM Dinas Koperasi Usaha Kecil Perdagangan (Diskopumdag) Tuban Nindya Mawar dhani menyampaikan, jika mampu memanfaatkan dengan baik, fitur terbaru dari TikTok Shop dapat membawa angin segar kepada pelaku UMKM di Tuban.
‘’Sangat disayangkan hingga sekarang ini belum banyak para pelaku usaha lokal di Tuban yang memperluas jualannya melalui aplikasi itu,” ujar dia.
Ninin sapaan akrabnya menambahkan, fitur terbaru yang mempermudah transaksi jual-beli dari TikTok shop belum banyak diketahui masyarakat, terutama para pelaku usaha di Tuban.
‘’Perlu adanya sosialisasi (dari pihak pengembang) kepada para pelaku usaha di Tuban agar mereka bisa memperluas jaringan,” terangnya.
Lebih lanjut Ninin menjelaskan, faktor lain yang membuat TikTok Shop belum dikenal karena banyak yang mempertahankan kebiasaan jual beli secara tradisional atau memanfaatkan media sosial yang lebih mudah seperti Whatsapp.
‘’Jika tidak segera beradaptasi akan ketinggalan dengan para pelaku usaha lain,” imbuhnya.
Pejabat asal Kecamatan Plumpang itu menuturkan, sisi positif jika mampu mengembangkan jaringan penjualan melalui TikTok Shop bisa menghemat biaya produksi.
Terutama tak perlu lagi mengeluarkan ongkos sewa lahan bagi para pelaku UMKM.
‘’Bahkan bisa menciptakan lapangan pekerjaan baru, khusus yang bertugas untuk live streaming,” kata dia.
Ninin mengatakan, di lapangan menunjukan bahwa kebanyakan masyarakat cenderung lebih suka berbelanja melalui e-commerce seperti aplikasi Shopee, Bukalapak, Lazada, dan semacamnya.
Hal tersebut juga salah satu penyebab minat belanja melalu TikTok Shop khususnya di Tuban masih sepi peminat.
Rizki Herdiyan Zenda, 31, pemilik kios keripik oleh-oleh khas Tuban mengakui, sampai saat ini usaha miliknya belum memperluas jaringan penjualannya melalui aplikasi Tiktok shop. Sampai saat ini masih berjualan offline.
‘’Kalau via online kami hanya berjualan melalui aplikaasi Shopee dan Grab saja,” ujar dia.
Pria asal Semanding itu menambahkan jika 90 persen pemasukan yang didapatkan saat ini berasal bari penjualan offline. Sedangkan penjualan via online cuma 10 persen saja.
‘’Tidak menutup kemungkinan ke depannya akan mengembangkan jaringan melalui TikTok Shop,” pungkasnya. (an/yud)
Editor : Amin Fauzie