RADARTUBAN – Sebagai satu-satunya sumber air untuk kebutuhan sehari-hari, pelayanan Himpunan Pemakai Air Minum (Hipam) di sejumlah desa justru sering kali tidak sesuai harapan para pelanggannya.
Seperti yang diadukan sejumlah pelanggan Himpunan Pemakai Air Minum (Hipam) Sumberagung Persada.
Layanan jasa sumber air yang berlokasi di Desa Sumberagung, Kecamatan Plumpang itu dikeluhkan karena tidak profesional.
Kepada Jawa Pos Radar Tuban, Muchlisin, warga Desa Sumberagung mengungkapkan, tiga bulan terakhir saluran air yang mengalir ke rumahnya sering mati dan alirannya tidak lancar.
Selama tiga pekan terakhir, dia mengaku beberapa kali melaporkan kendala itu kepada petugas Hipam namun tak direspons.
Muchlisin mengungkapkan, keluhan itu tidak hanya dialami dia sendiri. Sejumlah warga lain juga mengaku kekurangan pasokan air trimester terakhir.
‘’Saya berkali-kali melapor ke petugas kalau ada saluran yang bocor yang membuat aliran air menuju rumah ikut terhambat namun hingga saat ini belum ada tindakan,’’ ujar dia.
Pria berusia 42 tahun itu juga mengeluhkan besaran biaya yang dia tanggung selama tiga bulan terakhir.
Sebelum ada permasalahan air mampet tersebut, dia membayar bulanan hanya sekitar Rp 50 ribu.
‘’Sekarang dengan gangguan ini justru pembayarannya malah membengkak, bahkan mencapai Rp 100 ribu,’’ jelasnya.
Terpisah, Diah warga Perumahan Griya Asri yang berlokasi di desa setempat mengungkapkan keluhan yang sama. Bahkan air kerap mati di jam-jam aktivitas rumah tangga.
‘’Biasanya kerap mati di waktu pagi dan sore hari,’’ kata dia.
Beberapa kali dia juga sempat melaporkan permasalahan ini ke petugas agar segera mendapatkan penanganan.
Bukannya mendapat solusi, keluhan tersebut dibalas dengan dikeluarkannya Diah dari grup Whatsapp pelanggan Hipam.
Keluhan yang sama juga dirasakan oleh Evika warga lain di perumahan yang sama mengungkapkan, kurangnya pasokan air yang selama tiga bulan terakhir.
‘’Pasokan air yang mengalir ke rumah saya tidak menentu, terkadang setengah hari air mati, terkadang di jam-jam produktif alirannya tidak lancar,’’ imbuhnya.
Wanita berusia 28 tahun itu mengaku sampai harus menumpang mandi di SPBU (stasiun pengisian bahan bakar umum) atau masjid untuk mendapatkan air.
‘’Kadang kalau air mati seharian saya harus menumpang mandi di SPBU,’’ ungkapnya kesal.
Menanggapi kemelut permasalahan tersebut, Sumarto selaku pengurus Hipam Sumberagung Persada menolak dianggap lamban dalam menangani permasalahan air Hipam.
Dia mengakui, ada berbagai faktor yang membuat beberapa pelanggan mengeluhkan aliran air yang tidak lancar.
Menurut dia, kendala air itu dipicu karena banyaknya pelanggan. Tercatat ada dua ribu pengguna air yang meliputi warga desa setempat bahkan luar desa.
‘’Jam-jam produktif penggunaan air dan ketinggian dataran rumah juga jadi faktor aliran di setiap rumah berbeda-beda,’’ ungkapnya. (an/yud)
Editor : Amin Fauzie