Berbekal kecintaannya terhadap seni dan budaya, Rangga Meuligga Daniarko, 21, memberanikan diri mengikuti pemilihan Cung dan Nduk Tuban 2024. Tidak disangka, bekal itulah yang mengantarkannya meraih gelar Cung Tuban 2024.
BEGITU namanya disebut sebagai juara 1 Cung Tuban 2024 pada malam grand final yang berlangsung di Tuban Abirama, Sabtu (29/6) malam. Rangga Meuligga Daniarko yang berada di atas panggung tak lagi mampu menahan rasa bahagia yang membuncah.
Dengan senyum mengembang, air mata yang berusaha ditahan agar tidak tumpah, itu menggenang di antara kelopak matanya. Sejurus kemudian, selempang Cung Tuban 2024 dipasangkan oleh Muhammad Rafy Wibawanto, Cung Tuban 2022. Lalu disusul Bupati Aditya Halindra Faridzky menyerahkan piala dan simbolis hadiah. Tampak senyum merekah terpancar jelas dari wajah mahasiswa Universitas Pembangunan Nasional (UPN) Jawa Timur tersebut.
Dalam kesempatan itu, Rangga—sapaan akrab Rangga Meuligga Daniarko—mengaku tidak pernah membayangkan bakal dinobatkan sebagai Cung Tuban 2024. Terlebih, ini kali pertama dia mengikuti kompetisi Cung-Nduk. Hanya saja, dalam ajang pemilihan duta, nama Rangga tidaklah asing. Sebelumnya, mahasiswa UPN Jawa Timur jurusan administrasi bisnis ini pernah mengikuti pemilihan Duta Gemarikan 2020. ‘’Alhamdulillah, saya bersyukur luar biasa,’’ katanya.
Pemuda asal Desa Prunggahan Wetan, Kecamatan Semanding itu menegaskan, pemilihan Cung-Nduk tidak sekadar kompetisi, tapi sebagai ajang untuk mengukur kemampuan diri. Dan lebih jauh dari itu, juga sebagai wadah pengembangan diri. ‘’Saya merasa, ini adalah kesempatan yang luar biasa untuk lebih mendalami kebudayaan dan kearifan lokal Tuban. Sehingga, Cung-Nduk ini menjadi wadah yang tepat untuk mengasah kemampuanku,’’ ujarnya kepada Jawa Pos Radar Tuban.
Pada ajang pemilihan duta dua tahun sekali ini, Rangga menawarkan Wayang Krucil sebagai inovasi pengembangan pariwisata di Tuban. Menurutnya, wayang krucil tidak banyak diketahui oleh masyarakat Tuban. Padahal, budaya asli Tuban ini sudah masuk dalam Warisan Budaya Tak Benda (WBTB). Bahkan, tegas dia, sudah dinobatkan oleh Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi sejak 2022 lalu. ‘’Karena tidak banyak orang yang tahu, jadi aku ingin mengenalkan wayang krucil secara lebih luas,” ujarnya.
Alumnus SMA Negeri 3 Tuban itu menuturkan, wayang krucil bisa diimplementasikan menjadi produk jual lewat pendekatan seni kriya. Nantinya, terang Rangga, bisa berupa cinderamata kriya, ornamen museum, atau bangunan yang ada di kota Tuban, serta motif batik. ‘’Itu bisa jadi cinderamata khas Tuban nantinya,” tutur mahasiswa semester enam itu.
Lebih lanjut dia mengungkapkan, sebenarnya Tuban memiliki banyak kelebihan pada sektor pariwisata yang dapat dikembangkan. Mulai dari letak posisi yang berada di sepanjang bibir pantai utara, memiliki pariwisata budaya, serta bahari. Kendati berada di bibir pantai, namun Tuban masih memiliki potensi dataran tingginya dari potensi alam. ‘’Aku kira, kita masih punya banyak sektor pariwisata yang dapat dikembangkan,’’ tuturnya.
Meski memiliki banyak kelebihan, dia juga tidak memungkiri bahwa Tuban masih memiliki pekerjaan rumah untuk membangun sektor pariwisata. Menurutnya, perlu adanya kesadaran serta kemampuan untuk mengelola sebuah obyek pariwisata. Jika sudah ada dua hal ini, maka wisata di Tuban tidak akan terbengkalai. ‘’Rasanya sayang, kalau sudah ada tempatnya, tapi karena nggak ada dua hal itu jadi sering terbengkalai,’’ ujarnya.
Sebagai Duta Wisata Kabupaten Tuban 2024 ini, anak kedua dari tiga bersaudara itu berkeinginan untuk terus menggali potensi wayang krucil. Dengan menggunakan media sosial sebagai media promosinya, dia yakin wayang Krucil akan dikenal banyak orang. ‘’Kita perlu mengenalkan wayang krucil, karena rasanya sangat sayang kalau masyarakat tidak tahu wayang krucil,’’ pungkas dia masih disertai senyuman di wajahnya. (*/tok)
Editor : Adib Turmudzi