Tepat 104 tahun yang lalu, persisnya pada 31 Juli 1920, jalur kereta api dari Babat menuju Tuban resmi dibuka. Sejak saat itu, mulai dilakukan aktivitas jual beli oleh pemerintahan Hindia-Belanda.
NEDERLANDSCH - Indische Spoorweg (N.I.S.) selaku perusahaan kereta api Tuban masa Hindia - Belanda telah merencanakan pembangunan sejak 1911.
Rencana tersebut terdokumentasikan di surat kabar Het Nieuws Van Den Dag yang terbit Jumat, 3 Februari 1911.
Surat kabar tersebut menyebutkan jika jalur kereta api rencananya akan dibangun dengan rute dari Babat – Tangkir (belum jelas sekarang lokasinya) – Klotok – Plumpang – Morosemo (Desa Sumberagung, Plumpang) – Kepet – Dawung – Pesantren (sekarang Kradenan, Palang) – Panyuran – Tuban – Latsari – Mondokan dan berakhir di Merakurak.
Masih mengacu sumber yang sama. Sebenarnya, jalur kereta api Tuban direncanakan akan berlanjut hingga Lasem, Rembang.
Namun terganjal medan di area Kecamatan Tambakboyo yang didominasi daerah rawa-rawa.
Disebutkan juga, ada jalur lain dari Babat - Prambonwetan, Kecamatan Rengel. Jalur kedua ini diduga untuk mengangkut hasil panen, terutama tebu dari Bojonegoro.
Rencana pembangunan rute itu dilaporkan ke Den Haag (Pemerintahan Belanda) untuk mengajukan perizinan pembangunan.
Rencana pembangunan kereta api Tuban tersebut baru terealisasi tahun 1920. Terbukti dari surat kabar Bataviaasch Nieuwsblad terbitan Sabtu 31 Juli 1920, menyebut bahwa tanggal 30 Juli 1920 diadakan pembukaan jalur kereta dengan meriah.
Lokasinya di pusat Kota Tuban, kemungkinan di sekitar stasiun lama Kelurahan Doromukti, Tuban.
Dalam pembukaan itu diadakan slametan atau tasyakuran dengan suguhan makanan yang lezat dan diramaikan oleh masyarakat.
Jejak kereta api tersebut masih bisa ditelusuri dari bangunan stasiun lama dan jalur rel yang masih tersisa.
Teguh Fatchur Rozi, pemerhati sejarah mengungkapkan, pembangunan jalur kereta api Tuban pertama kali diajukan pada tahun 1891. Namun pembangunan itu baru bisa terealisasi di tahun 1920.
‘’Tidak disebutkan secara jelas, namun ada banyak pertimbangan yang membuat pembangunan jalur kereta api saat itu tak kunjung terlaksana dengan cepat,’’ ucapnya.
Sejarawan Desa/Kecamatan Palang itu mengatakan, pembangunan jalur kereta api Tuban berkat campur tangan dari Gonggrijp selaku Residen Rembang pada masa itu.
Gonggrijp menginginkan wilayah Tuban dan sekitarnya mendapat kemudahan untuk mobilisasi perdagangan.
Pada waktu itu, rencana membangkitkan kereta api Tuban dilakukan Gonggrijp yang dibantu oleh Johan, Jasper, dan March, sebagai asisten Residen Rembang.
Pembukaan jalur terbagi menjadi tiga sesi, sesi pertama untuk lalu lintas Babat-Plumpang pada 5 Oktober 1919, kemudian Plumpang-Tuban pada 1 Desember 1919, dan Tuban-Merakurak pada 30 Juli 1920.
Akhirnya jalur kereta api sepanjang 46 kilometer (Km) yang dibangun oleh Nederlandsch-Indische Spoorweg (N.I.S.) resmi diaktifkan total pada 1 Agustus 1920.
‘’Jalur kereta Tuban-Merakurak menjadi jalur terakhir yang akhirnya diaktifkan, kereta api akhirnya dibuka untuk umum,’’ ujar Teguh.
Sarjana Sejarah Peradaban Islam Universitas Islam Sunan Ampel Surabaya (UINSA) ini menuturkan, alasan utama pembangunan jalur kereta api Tuban untuk mempermudah sektor perdagangan.
Letak Tuban yang berada pada jalur lalu lintas utama perdagangan dinilai sangat strategis.
Terutama untuk mempermudah akses jual beli dari Babat, Lamongan yang pada masa itu sebagai pasar tembakau terbesar di Jawa.
Ribuan pikul tembakau keranjang biasanya dikirim melintasi Tuban menuju Rembang dan sekitarnya. Juga untuk mengangkut produk lain, terutama hewan ternak.
Angkutan barang di jalur tersebut diproyeksikan bakal mempermudah perdagangan hingga menjadi pasar besar era pemerintahan Hindia-Belanda.
‘’Karena pada waktu itu kondisi musim tidak bersahabat untuk mengangkut barang melintasi jalur air,’’ jelas Teguh.
Faktor lain yaitu Adipati Tuban yang memerintah pada waktu itu, R.T. Pringgowinoto (1911-1919) dan R.A.A. Koesoemohadiningrat (1920-1927) juga mendukung penuh pembukaan jalur kereta api Tuban.
‘’Manfaatnya juga dapat memberi kemudahan masyarakat berlalu lintas di masa itu,’’ pungkas Teguh membedah sumber sejarah kereta api itu. (an/yud)
Editor : Yudha Satria Aditama