RADARTUBAN – Tidak semua pendonor darah di Unit Donor Darah (UDD) Palang Merah Indonesia (PMI) Tuban dalam kondisi sehat. Hampir saban bulan selalu ditemukan hasil donor darah yang reaktif virus.
Selama dua pekan awal 2025 ini, misalnya, sudah ditemukan sebanyak sembilan kantong darah tidak bisa didistribusikan lantaran reaktif virus.
Kepala UDD PMI Tuban Bambang Priyo Utomo menuturkan, sebelum disalurkan ke sejumlah rumah sakit atau penerima, darah dari para pendonor lebih dulu dilakukan skrining empat parameter penyakit menular, yakni Hepatitis B, Hepatitis C, Sifilis, dan HIV.
‘’Dari hasil skrining, ada sembilan kantong darah yang reaktif virus (di antara virus hepatitis B, hepatitis C, sifilis, dan HIV, Red)’’ tutur Bambang—sapaan akrabnya kepada Jawa Pos Radar Tuban.
Bambang menyampaikan, dari sembilan kantong darah reaktif tersebut, tujuh di antaranya reaktif virus Hepatitis B, lalu satu kantong reaktif Hepatitis C, dan satu lagi reaktif Sifilis.
‘’Sejauh ini tidak ada kantong darah yang reaktif virus HIV,’’ katanya.
Lebih lanjut, mantan Kepala Dinas Kesehatan, Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (Dinkes P2KB) Tuban itu menyampaikan, mayoritas pendonor tidak tahu jika mereka reaktif virus.
‘’Mereka baru sadar (darahnya reaktif virus, Red) saat kami sampaikan hasilnya,’’ terang pejabat asal Kecamatan Tambakboyo itu.
Untuk memastikan kondisi kesehatan pendonor, terang Bambang, petugas meminta kepada pendonor untuk melakukan tes ulang. Jika benar reaktif virus, UDD PMI akan memberikan rujukan ke rumah sakit untuk melakukan pemeriksaan lebih lanjut.
‘’Tujuannya, untuk menghindari penyebaran dan penularan penyakit tersebut ke lingkungan masyarakat,’’ jelasnya.
Sayangnya, terang Bambang, sebagian pendonor malah merasa takut. Misal, yang terdata reaktif sebanyak sepuluh pendonor, yang datang kembali untuk pemeriksaan dan tindak lanjut hanya empat orang saja.
Kebutuhan Darah Meningkat 15 Persen
Pada bagian lain, sejak memasuki penghujan hingga sekarang, kebutuhan darah dari sejumlah rumah sakit mengalami peningkatan sekitar 15 persen.
Bambang menyampaikan, meningkatnya kebutuhan darah ini lantaran permintaan pasien demam berdarah yang terus bertambah. Selain itu, juga permintaan dari pasien cuci darah, thalasemia, dan pasien yang sedang menjalani operasi besar.
‘’Dari total jumlah dropping sebanyak 600-700 kantong darah ke rumah sakit, kami mengalami peningkatan sebanyak 90 kantong darah setiap melakukan dropping,’’ katanya.
Untuk mencukupi peningkatan jumlah kantong darah, PMI menyiasati dengan menghubungi kembali para pendonor yang setidaknya sudah melakukan donor darah selama dua bulan terakhir.
‘’Ada juga rangkaian jadwal kegiatan donor darah sebagai solusi untuk memenuhi peningkatan permintaan kantong darah dari rumah sakit daerah maupun swasta,’’ pungkasnya. (saf/tok)
Editor : Yudha Satria Aditama