RADARTUBAN - Rina Ummi Sofiana adalah satu di antara generasi muda yang mencintai seni tari tradisional. Meski minoritas—dari jamaknya generasi seumurannya yang mulai meninggalkan seni tradisional.
Namun, dirinya merasa bersyukur diberikan kesempatan Tuhan untuk menjaga dan melestarikan budaya bangsa.
‘’Tidak semua anak muda mendapat kesempatan bisa mempelajari seni tradisional. Karena itu, saya cukup beruntung diberikan kesempatan ini (bisa melestarikan seni tari tradisional, Red),’’ ujarnya memberikan cara pandang yang tidak biasa.
Disampaikan Rina, kecintaannya terhadap seni tari tradisional berjalan alami sejak masih usia anak-anak. Dan dari kecil itu pula dirinya dikenalkan banyak jenis tarian oleh orang tuanya, hingga semakin lihai setelah bergabung dengan sanggar tari.
‘’Dari suka, akhirnya menjadi hobi hingga saat ini,’’ katanya.
Lebih lanjut dia menyampaikan, menari bukan hanya sekadar menggerakan tubuh. Tapi juga menjadi ruang ekspresi dan sarana mengontrol emosi.
‘’Kenapa seniman-seniman itu jarang sekali emosi, karena mereka mempunyai sarana untuk mengontrol emosi,’’ ujarnya penuh filosofis.
Gadis yang kini berusia 23 tahun itu menuturkan, semakin dalam mempelajari seni tari tradisional, semakin dalam pula dirinya mencintai budaya warisan leluhur ini.
Selama melakoni hobinya tersebut, alumni SMAN 2 Tuban itu telah mengikuti berbagai penampilan di atas panggung.
Mulai dari perlombaan tingkat kecamatan hingga provinsi pernah dirasakannya. Bahkan, pada 2019 pernah menyabet juara utama FLS2N SMA tingkat kabupaten. Juga telah mengikuti berbagai event tari tradisional.
‘’Tari seakan sudah menjadi bagian dari hidup saya. Selain bisa menjadi sarana kesenangan, menari juga bisa menjadi cara saya untuk menghilangkan stres dan penat,’’ katanya lantas tersenyum.
Alumnus Universitas Jember itu menambahkan, salah satu tokoh inspiratifnya adalah Didik Nini Thowok. Menurutnya, keunikan tokoh tersebut saat tampil dengan dua topeng di depan dan belakang kepala dan dengan gerakannya yang seolah-olah dua orang penari di dalam dirinya, itu menjadi suatu yang mengagumkan bagi Rina. (saf/tok)
Editor : Yudha Satria Aditama