RADARTUBAN – Jumlah kunjungan ke Perpustakaan Daerah (Perpusda) Kabupaten Tuban tercatat mengalami penurunan sepanjang 2025.
Namun, kondisi tersebut bukan disebabkan menurunnya minat baca generasi muda Bumi Ronggolawe, melainkan dampak teknis pelaksanaan stock opname untuk pemutakhiran koleksi buku di pertengahan tahun lalu.
Data menunjukkan, jumlah pengunjung Perpusda Tuban menurun dari 42.832 orang pada 2024 menjadi 25.631 pengunjung di 2025.
Tren serupa juga terjadi di 12 perpustakaan kecamatan, dengan total kunjungan turun dari 55.567 menjadi 45.857 pengunjung pada periode yang sama.
Kepala Dinas Perpustakaan dan Kearsipan (Dispersip) Tuban, Endro Budi Sulityo, menjelaskan bahwa penurunan tersebut merupakan konsekuensi dari proses pendataan ulang koleksi buku yang berlangsung selama sekitar tiga bulan.
“Selama proses stock opname, layanan peminjaman dan baca di tempat memang ditiadakan. Hal itu yang paling dominan memengaruhi jumlah kunjungan,” jelasnya.
Meski layanan tatap muka sempat ditutup, antusiasme masyarakat terhadap literasi tetap terjaga melalui pemanfaatan layanan digital.
Pengguna aplikasi Tuban Digital Library (Tulib) meningkat signifikan, dari 1.283 kunjungan pada 2024 menjadi 2.930 kunjungan di 2025.
Sementara itu, layanan otomasi juga naik dari 146.900 pengunjung pada 2024 menjadi 178.970 pengunjung pada 2025.
“Alternatif akses baca lainnya justru menunjukkan antusiasme masyarakat terhadap dunia literasi terus meningkat,” ujar mantan Asisten Perekonomian dan Pembangunan Sekda Tuban tersebut.
Kendati demikian, Endro mengakui tantangan dalam meningkatkan minat baca semakin kompleks seiring pesatnya perkembangan gawai dan media sosial.
Beragam hiburan digital dinilai menjadi distraksi tersendiri yang berpotensi menggerus minat baca, khususnya di kalangan generasi muda.
Di sisi lain, ia menegaskan bahwa tingkat literasi masyarakat tidak dapat diukur semata-mata dari jumlah kunjungan perpustakaan.
Ada sejumlah indikator lain yang turut menjadi penilaian dalam Indeks Pembangunan Literasi Masyarakat (IPLM).
“Masih banyak aspek yang harus dilihat untuk menentukan angka IPLM. Untuk tahun 2025, datanya memang belum dirilis Perpustakaan Nasional. Harapannya, capaian Tuban bisa lebih baik dari tahun sebelumnya,” kata mantan Sekretaris Disbudporapar Tuban itu.
Lebih lanjut, Endro menekankan bahwa peningkatan minat baca memerlukan berbagai upaya, mulai dari penyediaan buku sesuai minat pemustaka, kesadaran individu, hingga peningkatan fasilitas baca di tengah masyarakat.
“Insya Allah keberadaan Tulib dan pojok baca digital dapat menunjang peningkatan minat literasi di Tuban,” tegasnya.
Selain faktor fasilitas, kebiasaan literasi di lingkungan sekitar juga dinilai berperan penting dalam membentuk budaya membaca.
Dari keseluruhan koleksi yang tersedia di Perpusda Tuban, buku-buku kategori kesusastraan seperti novel masih menjadi yang paling diminati oleh puluhan ribu pengunjung. (saf/ds)
Editor : Yudha Satria Aditama