RADARTUBAN – Sebanyak 96 lokasi di seluruh Indonesia telah ditetapkan sebagai tempat rukyatul hilal pada 17 Februari pekan depan.
Di Tuban, kegiatan pemantauan hilal untuk menetapkan awal Ramadan 2026 diputuskan di Menara Banyuurip, Desa Banyuurip, Kecamatan Senori.
Kepastian lokasi tersebut disampaikan oleh Kepala Kantor Kementerian Agama (Kemenag) Tuban Umi Kulsum.
Pasalnya, dalam beberapa tahun terakhir ini sempat muncul opsi mencari tempat lain.
Di antara tempat yang dianggap representatif, yakni Pantai Panduri di Kecamatan Jenu, Pantai Boom, dan Gunung Nganten di Kecamatan Palang.
Bahkan, pada 2022 juga sempat mengajukan anggaran pembangunan pusat observasi bulan (POB) di kompleks kantor KUA Kecamatan Palang.
Namun, usulan tersebut tak kunjung disetujui oleh Kemenag pusat.
Padahal, dari survei yang dilakukan Kasubdit Hisab Rukyat dan Pembinaan Syariah Kemenag RI, titik lokasi di kantor KUA Kecamatan Palang ini dianggap representatif.
Jarak dari kantor Kemenag Tuban menuju lokasi juga terbilang dekat. Kurang lebih hanya 15 menit perjalanan.
Sebagai perbandingan, meski hilal di perbukitan Banyuurip sempat terlihat sekali, tepatnya 2021, atau setelah empat tahun sejak ditetapkan sebagai tempat rukyatul hilal pada 2018, namun jarak dari kota menuju lokasi Menara Banyuurip cukup jauh.
Memakan waktu kurang lebih satu jam setengah, bahkan bisa lebih.
‘’Untuk tahun ini, lokasinya (rukyatul hilal, Red) tetap di Menara Banyuurip,’’ kata Umi—sapaan akrab Kepala Kantor Kemenag Tuban.
Umi mengatakan, kendati jauh, namun Menara Banyuurip terbilang cukup representatif untuk melihat hilal dibanding tempat lain.
Karena alasan itulah, Menara Banyuurip masih menjadi pilihan utama untuk kegiatan pemantauan hilal, atau selama belum ada lokasi lain yang lebih representatif.
‘’Meski tidak sering berhasil melihat bulan, namun pernah sekali hilal terlihat dari Menara Banyuurip,’’ ujarnya.
Sebagaimana diketahui, penetapan awal Ramadan tahun ini berpotensi beda antara pemerintah-Nahdlatul Ulama (NU) dan Muhammadiyah.
Berdasar penghitungan hisab hakiki, organisasi Muhammadiyah menetapkan awal Ramadan jatuh pada hari Rabu, 18 Februari 2026. Sedangkan pemerintah baru akan menjadwalkan sidang isbat penentuan awal puasa pada 17 Februari.
Berdasar perhitungan hisab yang dilakukan tim Badan Hisab Rukyat (BHR) Kemenag, ijtimak (konjungsi) menjelang Ramadan tahun ini terjadi pada Selasa, 17 Februari, pukul 19.01 WIB.
Posisi hilal saat matahari terbenam di seluruh wilayah Indonesia berada di bawah ufuk—dengan ketinggian berkisar -2° 24 menit 42 detik hingga -0° 58 menit 47 detik, serta sudut elongasi 0° 56 menit 23 detik hingga 1° 53 menit 36 detik.
Konklusinya, saat 17 Februari hilal belum terlihat atau belum bisa diamati, maka jumlah bulan Syaban digenapkan 30 hari.
Dengan demikian, 1 Ramadan jatuh pada 19 Februari. Namun, jika pada 17 Februari nanti ada satu petugas rukyatul hilal yang bisa melihat bulan, maka awal puasa jatuh pada 18 Februari, sehingga bersamaan dengan Muhammadiyah yang sudah menetapkan lebih awal.(tok)
Editor : Yudha Satria Aditama