RADARTUBAN – Unit Donor Darah Palang Merah Indonesia (UDD PMI) Tuban mencatatkan surplus stok darah yang signifikan. Memasuki bulan Ramadan, stok darah terdata melimpah alian overload.
Diwawancarai Jawa Pos Radar Tuban, Humas UDD PMI Tuban Sarju Effend menyebut, sebanyak 944 kantong darah masuk ke dalam lemari pendingin milik lembaga kemanusiaan di Bumi Ronggolawe itu.
Jumlah tersebut dipastikan cukup untuk menutup kebutuhan pasien hingga tiga minggu mendatang.
‘’Kalau untuk sebulan penuh mungkin belum cukup, karena masa kedaluwarsa darah itu maksimal 30 hari. Jadi kami maksimalkan penggunaannya di rentang waktu tersebut," kata Sarju.
Walau aman karena stok persediaan melimpah, UDD PMI Tuban justru juga dibayang-bayangi rasa waswas.
Sebab, jumlah sebanyak itu berisiko mengalami kedaluwarsa jika permintaan kantong darah dari rumah sakit maupun pasien rendah.
‘’Risikonya memang seperti itu kalau stok kami overload. Terlebih untuk golongan darah AB dan O yang jumlah pendonor sekaligus pasiennya tergolong sedikit. Kalau seperti itu khawatirnya malah terbuang sia-sia,” jelasnya.
Dari 944 kantong tersebut, darah golongan darah O mendominasi dengan 348 kantong. Kemudian B sebanyak 288, A sebanyak 218, dan golongan darah AB terkumpul 90 kantong.
‘’Sedangkan dari komponen darahnya, kami tidak menyediakan stok trombosit. Kalau komponen lainnya seperti whole blood, plasma segar, dan sel darah merah kami ada persediaannya,” ujar Sarju.
Dia melanjutkan, tidak tersedianya stok trombosit karena masa simpannya yang sebentar dan harus berada di suhu ruang.
Selain itu, untuk mendapatkan trombosit juga diperlukan darah segar dan bukan dari darah yang telah masuk lemari penyimpanan.
‘’Kami akan mencari pendonor baru saat ada permintaan trombosit yang masuk,” tutur lulusan Universitas Dr. Soetomo Surabaya ini.
Sementara itu, meski persediaan melimpah, Sarju menyebut bahwa memasuki pertengahan Bulan Suci nanti, diperkirakan akan ada beberapa rumah sakit besar di Tuban yang meminta dropping kantong-kantong darah dari UDD PMI Tuban.
Hal tersebut diperkirakan dapat mengurangi risiko kedaluwarsa darah-darah yang sudah didonorkan.
‘’Kalau awal, pasti UDD lain juga stoknya aman. Tapi mungkin mulai pertengahan kami lakukan dropping lagi ke rumah sakit yang membutuhkan,” pungkas Sarju.(saf/ds)
Editor : Yudha Satria Aditama