RADARTUBAN – Hari pertama pendistribusian menu Program Makan Bergizi Gratis (MBG) selama Ramadan menuai keluhan dari sejumlah orang tua siswa di Tuban.
Keluhan tersebut ramai diperbincangkan di media sosial setelah sejumlah wali murid mengunggah foto menu MBG yang diterima anak-anak mereka dan mempertanyakan nilai gizinya.
Dari unggahan yang beredar, menu MBG di beberapa Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) dinilai kurang layak. Di SPPG Bogorejo, misalnya, menu yang dibagikan hanya berisi satu kotak susu, buah pir, keripik tempe, roti, serta telur puyuh.
Sementara di SPPG Sugiharjo, menu yang diterima disebut hanya berupa roti berukuran kecil dan buah jambu.
Unggahan tersebut langsung dibanjiri komentar bernada kritik dari warganet.
“Masak menu MBG seperti ini?” tulis salah satu pengguna Facebook asal Tuban. Netizen lain menilai kualitas menu MBG selama Ramadan justru lebih rendah dibandingkan hari biasa.
Selain soal menu, keberlangsungan program MBG selama Ramadan juga menuai sorotan. Sejumlah orang tua menilai pemberian makanan di sekolah justru mengganggu proses anak-anak dalam belajar berpuasa.
“Anakku seharusnya wes belajar poso malah gak sido, gara-gara oleh MBG,” tulis seorang wali murid.
SL, salah satu wali murid, mengaku kecewa dengan menu MBG yang diterima anaknya.
Menurut dia, menu tersebut sulit disebut bergizi. “Ini ada keripik tempe, gizinya di mana?” ujarnya.
Dia juga menyoroti nilai anggaran menu yang disebut berlaku untuk jatah tiga hari.
Berdasarkan perhitungannya, menu tersebut dinilai tidak sebanding dengan alokasi anggaran MBG yang mencapai Rp 15.000 per anak.
“Wajar kalau banyak yang mengeluh. Bahkan ada yang minta program ini dihentikan saja,” kata dia.
SL mengaku sepakat jika ada usulan agar bantuan MBG dialihkan dalam bentuk uang tunai dan diserahkan langsung kepada orang tua.
“Biar orang tua yang mengatur sendiri kebutuhan anaknya,” ujarnya.
Sementara itu, Koordinator Wilayah SPPG Tuban, Aulia Rizqi saat dikonfirmasi terkait keluhan menu MBG Ramadan dan kemungkinan adanya evaluasi, belum memberikan tanggapan hingga berita ini ditulis.(fud/ds)
Editor : Yudha Satria Aditama