RADARTUBAN - Pemkab Tuban tidak hanya menyiapkan anggaran besar untuk pembangunan kawasan Pantai Boom.
Proyek lain dengan nilai serupa juga direncanakan pada pembangunan tambat labuh kapal nelayan di dua tempat pelelangan ikan (TPI). Masing-masing di Desa Glondonggede, Kecamatan Tambakboyo dan Kecamatan Palang.
Total anggaran yang disiapkan untuk dua proyek tersebut mencapai Rp 23,7 miliar. Nilainya hampir menyamai anggaran pembangunan kawasan Pantai Boom yang direncanakan sebesar Rp 24,7 miliar.
Berdasarkan data dalam laman sirup.inaproc.id, pembangunan Tambat Labuh Palang tercatat dengan kode RUP 63038008 dengan anggaran sebesar Rp 6,8 miliar.
Sementara Tambat Labuh Glondonggede memiliki kode RUP 62970609 dengan nilai anggaran Rp 16,8 miliar.
Namun, demikian hingga kini belum ada penjelasan resmi mengenai detail rencana pembangunan dua paket proyek tersebut.
Kepala Dinas Ketahanan Pangan, Pertanian, dan Perikanan (DKP2P) Tuban Eko Julianto belum memberikan keterangan meski telah dihubungi melalui pesan singkat.
Anggota Komisi III DPRD Tuban Elis Yuanita Dewi mengatakan, rencana pembangunan dua tambat labuh itu sebenarnya telah dibahas sejak 2025 dalam rapat kerja antara DPRD dan DKP2P. Saat itu, pembahasan masih bersifat umum dan belum disertai nilai anggaran.
“Sekarang realisasinya kami juga belum dengar lagi, karena waktu itu memang belum sampai pada rincian anggaran,” ujarnya kepada Jawa Pos Radar Tuban.
Menurut Elis, secara kondisi lapangan, keberadaan tambat labuh di dua lokasi tersebut memang sudah lama menjadi keluhan nelayan.
Di Palang, misalnya, karakter ombak yang keras kerap menyebabkan perahu nelayan rusak.
“Di Palang itu memang sudah lama diusulkan warga. Ombaknya keras, perahu sering hancur,” katanya.
Sementara di Glondonggede, persoalan tambat labuh juga dinilai mendesak. Selama ini, banyak nelayan dari Desa Socorejo dan Glondonggede justru memilih berlabuh di sekitar terminal baru di Desa Sugihwaras, Kecamatan Jenu.
Kondisi tersebut memunculkan pasar ikan dadakan, namun menyulitkan nelayan karena jarak dari tempat tinggal mereka cukup jauh.
“Kasihan nelayannya, sudah capek melaut masih harus menunggu angkutan untuk pulang. Pengawasan alat tangkap juga minim dan rawan hilang,” ujar Elis.
Dia menambahkan, jauhnya akses itu bahkan sempat memicu kecelakaan, ketika nelayan pulang dari melaut dalam kondisi lelah dan basah kuyup dengan sepeda motor.
Selain pembangunan tambat labuh, Elis juga mendorong agar TPI Glondonggede dibarengi dengan revitalisasi Pasar Glondong.
Pasar tersebut dikenal sebagai salah satu pusat penjualan ikan segar yang diminati pembeli dari luar daerah.
“Kalau direvitalisasi, pembeli luar kota bisa lebih nyaman. Sekarang sudah banyak yang tahu, cari ikan segar tanpa es itu di pasar Jenu dan Glondonggede,” ujarnya.
Dalam waktu dekat, Komisi III DPRD Tuban berencana menggelar rapat dengan mitra kerja. Termasuk dengan DKP2P untuk membahas lebih lanjut rencana pembangunan tambat labuh tersebut. (fud/ds)
Editor : Yudha Satria Aditama