RADARTUBAN – Program makan bergizi gratis (MBG) yang diklaim mampu meningkatkan kualitas gizi dan daya konsentrasi siswa patut dipertanyakan.
Setidaknya, itu berdasar hasil survei yang diinisiasi pengurus OSIS MA Ash Shomadiyah Tuban setelah lima bulan menerima MBG.
Sebanyak 171 penerima manfaat dari jenjang MTs dan MA terlibat dalam survei tersebut. Rinciannya, 93 siswa MTs dan 78 siswa MA Ash Shomadiyah. Terdapat lima kolom pertanyaan dalam lembar survei yang dibagikan secara acak.
Di antara pertanyaan yang dijawab responden, yakni penilaian tentang kualitas menu, dampak terhadap kesehatan, pengaruh MBG terhadap kegiatan belajar di kelas, kepuasan terhadap program MBG secara keseluruhan, hingga soal sistem penyaluran MBG.
Hasilnya cukup mengejutkan. Dari 171 siswa yang disurvei, sebanyak 118 siswa menilai menu MBG yang diterima selama ini belum memenuhi standar makanan bergizi.
‘’Banyak santri yang menilai menu yang disajikan cenderung monoton, minim sayur atau nutrisi,’’ ungkap Hilda Auliya’urrahman, koordinator survei.
Kemudian, dari kolom dampak MBG terhadap kesehatan dan pengaruh MBG pada kegiatan belajar siswa, mayoritas santri menyebut keberadaan MBG belum sepenuhnya memberikan dampak signifikan terhadap konsentrasi belajar mereka di dalam kelas.
Bahkan, sejumlah santri mengatakan bahwa sistem penyaluran MBG mengganggu kegiatan belajar mengajar di kelas lantaran terjeda sesi pembagian MBG.
Sorotan tajam juga mengarah terhadap program MBG, khususnya pada sistem penyalurannya.
Dari 171 santri, sebanyak 78 siswa atau mayoritas menilai jika penyaluran MBG akan lebih efektif jika berbentuk dana transfer yang langsung diterima oleh masing-masing penerima manfaat. Sisanya terbagi dalam beberapa jawaban.
Pengasuh Ponpes Ash Shomadiyah Tuban KH Riza Shalihuddin Habibie mengatakan, survei yang diselenggarakan para santri di lembaganya itu sebagai bentuk evaluasi terhadap pelaksanaan program MBG.
Menurut dia, program MBG pada dasarnya memiliki tujuan baik, namun dalam pelaksanaan tidak sesuai harapan dan tujuan awal.
‘’Kami ingin melihat secara langsung secara objektif bagaimana program ini dirasakan oleh para santri. Terutama mereka yang selama ini sebagai penerima manfaat. Hasil survei ini harus menjadi bahan evaluasi bersama agar pelaksanaan MBG sesuai harapan,’’ bebernya.
Gus Riza menegaskan, pihaknya berharap pemerintah tidak hanya fokus pada keberlanjutan program, tetapi juga pada kualitas makanan yang diberikan kepada para penerima manfaat.
‘’Kalau namanya makan bergizi gratis, tentu unsur bergizinya harus benar-benar diperhatikan. Apalagi program ini menyedot anggaran yang tidak sedikit, jangan sampai pelaksanaannya belum maksimal,’’ beber dia.
Lebih lanjut, Gus Riza juga menyoroti ihwal penyaluran MBG selama Ramadan.
Menurutnya, pembagian menu makanan di tengah santri atau pelajar yang sedang melaksanakan ibadah puasa merupakan langkah kurang tepat.
Terlebih, berdasar pantauannya, pembagian menu MBG selama puasa banyak mendapatkan ketidakpuasan dari penerima manfaat.
Menurutnya, akan lebih efektif jika anggaran menu MBG langsung ditransfer ke siswa melalui masing-masing orang tua.
‘’Secara tidak langsung pemerintah telah menunaikan tanggung jawabnya memberikan makan bergizi kepada para penerima manfaat meski melalui dana transfer. Tinggal bagaimana penerima manfaat dapat dengan bijak menggunakanya untuk mencukupi kebutuhan nutrisi anak,’’ pungkasnya. (an/tok)
Editor : Yudha Satria Aditama