Advertorial Boks Daerah Ekonomi Bisnis Entertainment Hukum & Kriminal Internasional Kesehatan Kolom Lifestyle Nasional Nduk Olahraga Opini Pendidikan Politik & Pemerintahan Teknologi Visual Report Wisata & Kuliner

Mengapa Anjing dan Kucing Identik dengan Perkelahian? Ternyata Ada Penjelasan Ilmiahnya

Bihan Mokodompit • Kamis, 4 September 2025 | 19:05 WIB
Ilustrasi kucing dan anjing yang tak pernah akur.
Ilustrasi kucing dan anjing yang tak pernah akur.

RADARTUBAN - Mengapa anjing dan kucing identik dengan perkelahian menjadi pertanyaan umum di kalangan pemilik hewan peliharaan.

Kesan bahwa kedua hewan ini selalu berseteru memang sudah melekat kuat—apakah itu benar-benar sebuah fakta atau hanya mitos belaka?

1. Insting Predator dan Rivalitas Teritorial

Anjing dan kucing memiliki akar evolusi berbeda: anjing berasal dari keturunan serigala yang berburu secara berkelompok, sedangkan kucing adalah predator penyendiri yang sangat teritorial.

Ketika berada bersama tanpa pengenalan yang baik, anjing bisa melihat kucing sebagai mangsa, sementara kucing merasa terancam dan membalas dengan agresi.

Istilah perilaku anjing dan kucing muncul kembali sebagai pengingat bahwa ini bukan sekadar mitos, melainkan kombinasi insting alami dan reaksi teritorial yang berbeda.

2. Kesalahpahaman Komunikasi dan Bahasa Tubuh

Salah satu penyebab konflik adalah komunikasi lintas spesies yang berbeda—gerakan yang ramah menurut anjing bisa dianggap ancaman oleh kucing, dan sebaliknya.

Misalnya, ekor berkedut berarti bahagia untuk anjing, tetapi bagi kucing, itu adalah tanda stres atau kemarahan .

Salah memahami bahasa tubuh ini dapat memicu reaksi defensif, memicu konflik yang sebenarnya bisa dihindari.

3. Media Populer vs Realitas Ilmiah

Budaya populer seperti kartun “Tom and Jerry” telah menciptakan stigma bahwa anjing dan kucing selalu bermusuhan.

Padahal, studi 2020 terhadap 1.300 rumah tangga menunjukkan mayoritas interaksi mereka bersifat netral atau bahkan positif, bukan penuh konflik.

Ini menunjukkan bahwa Mengapa anjing dan kucing identik dengan perkelahian lebih karena stereotip yang terbangun lewat media, bukan realitas sehari-hari.

4. Sosialisasi Awal Mencegah Konflik

Penelitian dari Washington State University menyebutkan bahwa jika anjing dan kucing bertemu sejak masa kecil, peluang untuk rukun sangat besar.

Begitu pula riset dari Tel Aviv University menemukan bahwa jika pertemuan terjadi saat keduanya masih muda, kemungkinan besar mereka akan bisa “belajar bahasa” satu sama lain dan hidup harmonis.

Tentu ini sangat relevan bagi pemilik hewan peliharaan, bahwa insting predator bisa diminimalisir lewat sosialisasi yang tepat dan pengenalan bertahap.

Mengapa anjing dan kucing identik dengan perkelahian?

Jawabannya bukan karena kebencian mutlak, melainkan kombinasi insting alami, komunikasi yang berbeda, stereotip media, dan kurangnya sosialisasi awal.

Dengan pemahaman perilaku, pengenalan bertahap, dan kesabaran, hubungan keduanya malah bisa akur atau bahkan bersahabat. (*)

Editor : Yudha Satria Aditama
#biologis #kucing #anjing #perkelahian