RADARTUBAN- Seniman musik Baskara Putra, yang dikenal dengan nama panggung Hindia, baru-baru ini duduk bersama Raditya Dika untuk berbagi kisah di balik perjalanan kariernya.
Dalam video YouTube yang diunggah oleh Raditya Dika, 9 April 2025. Baskara mengakui, perjalanannya di dunia musik dimulai dari nol.
Dia tidak memiliki koneksi apa pun di industri, namun bersyukur memiliki privilese finansial yang memungkinkannya fokus pada hobi musik tanpa harus memikirkan beban keluarga.
Dia mengawali karier bersama band .Feast di masa kuliah, yang dibentuk di kantin FISIP UI. Album pertama mereka bahkan dibiayai dari uang pribadi.
Masa-masa awal ini penuh perjuangan.
Manggung hanya sesekali, bahkan Baskara pernah diusir dari studio rekaman di Depok karena kekurangan bayar Rp 2ribu.
Namun, semua berubah saat .Feast merilis mini album yang berisi lagu "Peradaban" dan "Berita Kehilangan."
Baskara mengungkapkan bahwa keberhasilan ini tak lepas dari strategi unik mereka membuat lirik video dengan format vertikal, memanfaatkan fitur Instagram TV yang saat itu baru muncul, sehingga memudahkan penyebarannya.
Momen ini menjadi titik balik bagi kariernya, di mana musik mereka mulai didengar lebih luas.
Baskara memiliki tiga proyek musik yang sangat berbeda: .Feast, Hindia, dan Lomba Sihir.
Dia menjelaskan bahwa .Feast adalah proyek band yang dibentuk bersama teman-teman kuliah.
Dari keinginan untuk bereksperimen, lahirlah proyek solo Hindia, yang awalnya tidak diniatkan serius, namun mendapat respons luar biasa.
Kemudian, dari para musisi yang membantu Baskara saat tampil live sebagai Hindia, terbentuklah band Lomba Sihir di masa pandemi, yang juga berujung pada rilisnya album. Karena memiliki banyak proyek, Baskara pun harus pintar membagi prioritas.
Dia menyebut dirinya "vokalis magang" di Lomba Sihir karena grup tersebut bisa tetap berjalan tanpa kehadirannya, berbeda dengan Hindia dan .Feast yang lebih bergantung pada dirinya.
Frasa "Semua Orang Bisa Nyanyi" yang dilontarkan Baskara dan kini menjadi meme, ternyata memiliki makna yang dalam.
Menurutnya, tidak ada suara yang jelek, melainkan hanya suara yang fals. Intinya adalah bagaimana seseorang menyampaikan pesan melalui musik, bukan hanya soal teknis.
Baskara juga membagikan rahasia di balik proses kreatifnya, terutama dalam pembuatan album "DOVES, 25 on Blank Canvas".
Dia menyebutnya sebagai mixtape karena pengerjaannya yang relatif singkat, hanya empat bulan, berbeda dengan album yang biasanya butuh waktu bertahun-tahun.
Prosesnya selalu dimulai dari tema, diikuti judul, dan kemudian dituangkan dalam bentuk draft dasar. Ia juga bekerja sama dengan banyak produser, yang juga membantunya untuk keluar dari zona nyaman dan menciptakan melodi yang baru.
Selain itu, Baskara juga membuat ulang lagu "Semua Lagu Cinta" milik Sal Priadi.
Dia mengaku sangat menyukai lagu tersebut dan menganggapnya sebagai bentuk apresiasi terhadap karya yang ia kagumi.
Hal ini juga menunjukkan bahwa dalam bermusik, dia sangat mengutamakan personalitas dan kejujuran dalam setiap karyanya.
Baskara mengakui bahwa karier musiknya telah membawanya ke titik di mana ia merasa berkecukupan.
Dia menekankan bahwa kesuksesan ini tidak datang secara instan, namun melalui kerja keras dan konsistensi.
Perusahaannya, tidak hanya berfungsi sebagai label musik, tetapi juga mengurus merchandising dan manajemen artis.
Pendapatan mereka berasal dari penjualan merchandise, royalti lagu dari berbagai platform, hingga perjanjian dengan brand dan iklan.
Baskara menyadari bahwa musiknya kini sudah didengar oleh banyak kalangan, termasuk orang-orang yang tidak pernah ia duga sebelumnya, seperti tukang tambal ban.
Ini membuktikan bahwa di era digital, penetrasi musik ke berbagai lapisan masyarakat menjadi sangat luas.
Kesimpulan yang diambil Baskara Putra, dikenal sebagai Hindia, memulai karier musik tanpa koneksi industri, namun didukung privilese finansial.
Dia sukses lewat proyek .Feast, Hindia, dan Lomba Sihir, dengan pendekatan jujur dan strategi kreatif. Kini, musiknya menjangkau berbagai kalangan, dan dia mengelola kariernya secara profesional melalui perusahaan sendiri. (*)
Editor : Yudha Satria Aditama