RADARTUBAN - Singkong atau cassava bukan sekadar tanaman umbi-umbian biasa.
Bagi masyarakat Jawa, tanaman ini telah lama menjadi sahabat setia di dapur, ladang, dan bahkan industri.
Singkong hadir sebagai solusi cerdas menghadapi tantangan alam dan ekonomi—dari tanah berbatu hingga krisis pangan.
Pangan Praktis, Serbaguna, dan Tahan Lama
Salah satu kelebihan utama singkong adalah kemudahannya untuk diolah.
Meski umbinya mudah membusuk (hanya bertahan sekitar tiga hari dalam kondisi segar), masyarakat Jawa menemukan banyak cara untuk memperpanjang usia simpannya.
Ada yang dikeringkan menjadi gaplek atau opak, difermentasi menjadi tape, digoreng jadi kerupuk, atau dikukus menjadi getuk yang lezat.
Kemampuan ini tidak muncul tiba-tiba. Catatan sejarah kolonial menyebutkan bahwa sejak abad ke-19, orang Jawa sudah mulai melakukan diversifikasi pangan dari singkong.
Dengan kata lain, kreativitas kuliner berbasis singkong telah berakar lama dalam budaya masyarakat.
Baca Juga: Ironi Pangan Lokal: Harga Talas dan Singkong Lebih Mahal dari Gandum Impor
Jawaban atas Tantangan Alam
Singkong tumbuh subur di lahan yang sulit ditanami tanaman lain.
Di daerah pegunungan dan lahan kering seperti Gunungkidul, Bojonegoro, hingga wilayah berbatu di Jawa Barat, singkong menjadi pilihan utama.
Tanaman ini tangguh: tidak rewel soal pupuk, tahan terhadap kekeringan, dan bisa tumbuh di tanah yang tidak terlalu subur.
Menariknya, ketika penyakit coffee leaf rust melanda perkebunan kopi di akhir abad ke-19, banyak petani beralih ke singkong.
Dibandingkan padi, singkong bahkan membutuhkan tenaga kerja 25% lebih sedikit.
Hasilnya, antara tahun 1905 hingga 1920, lahan singkong di Jawa melonjak dari 85 ribu hektare menjadi lebih dari 800 ribu hektare.
Masa Kejayaan yang Terlupakan
Tak banyak yang tahu bahwa pada dekade 1920–1940, Jawa pernah menjadi eksportir terbesar tepung tapioka di dunia, dengan volume ekspor mencapai 160.000 ton per tahun.
Tepung ini dibutuhkan di Eropa dan Amerika untuk industri tekstil, kertas, hingga lem.
Jalur kereta api seperti Semarang-Surabaya memudahkan pengangkutan singkong dari pedalaman ke pabrik di kota pelabuhan. Pada tahun 1940, tercatat ada 219 pabrik tapioka di Jawa yang kebanyakan dikelola pengusaha Tionghoa.
Namun, semua itu meredup setelah Perang Dunia II.
Kerusakan infrastruktur dan kebijakan diskriminatif terhadap etnis Tionghoa di era 1960-an menyebabkan banyak pabrik tutup dan kejayaan industri singkong perlahan menghilang dari ingatan kolektif.
Pahlawan di Tengah Krisis Pangan
Dalam situasi sulit, singkong selalu hadir sebagai penyelamat seperti dalam peristiwa-peristiwa berikut ini:
• Masa Depresi 1930-an: Ketika panen padi gagal dan harga ekspor jatuh, masyarakat menggantinya dengan gaplek.
• Pendudukan Jepang (1942–1945): Lahan-lahan pangan dialihfungsikan untuk keperluan perang, sementara rakyat dan tentara bertahan hidup dengan makan singkong.
• Krisis 1960-an: Saat impor beras mencapai 2 juta ton per tahun, singkong tetap diproduksi secara lokal dan murah.
Tak heran, pada 1930-an konsumsi singkong di Jawa pernah mencapai 130 kg per orang per tahun, menyumbang sekitar 40% kebutuhan kalori harian.
Makanan Rakyat, Tapi Tetap Favorit
Pasca-kemerdekaan, meski harga beras mulai distabilkan lewat peran BULOG, singkong tetap jadi pilihan utama masyarakat desa.
Data tahun 1976 menunjukkan, rumah tangga miskin di Jawa mengonsumsi hingga 56,4 kg singkong per orang per tahun, sedangkan rumah tangga kaya hanya 17,2 kg.
Singkong adalah simbol pangan rakyat: murah, mengenyangkan, dan mudah didapat.
Inovasi yang Membuat Singkong Tetap Eksis
Meskipun program Revolusi Hijau lebih banyak fokus ke padi, singkong tidak sepenuhnya tergeser.
Pemerintah dan peneliti memperkenalkan varietas unggul seperti Adira dan Mukibat, yang meningkatkan hasil panen dari rata-rata 7,6 ton per hektare (tahun 1971) menjadi 12,5 ton per hektare (1994).
Di era 1980-an, lewat program diversifikasi pangan, singkong kembali naik daun. Industri kecil mulai memproduksi mie dari singkong, kue, bahkan pakan ternak.
Dengan potensi yang begitu besar, singkong terbukti bukan sekadar makanan cadangan, tapi sumber daya pangan masa depan. (*)
Editor : Yudha Satria Aditama