Advertorial Boks Daerah Ekonomi Bisnis Entertainment Hukum & Kriminal Internasional Kesehatan Kolom Lifestyle Nasional Nduk Olahraga Opini Pendidikan Politik & Pemerintahan Teknologi Visual Report Wisata & Kuliner

Ophidiophobia: Bagaimana Phobia Ular Bisa Mempengaruhi Kehidupan Sehari-hari?

Bihan Mokodompit • Sabtu, 20 September 2025 | 16:10 WIB
Ular, Hewan yang menjadi penyebab Ophidiophobia
Ular, Hewan yang menjadi penyebab Ophidiophobia

RADARTUBAN - Phobia ular adalah kondisi psikologis dimana seseorang mengalami ketakutan ekstrem terhadap ular, yang dapat mengganggu aktivitas harian.

Phobia ular (ophidiophobia) sering kali lebih dari sekadar rasa takut biasa; bagi penderitanya, hanya dengan melihat atau membayangkan ular saja bisa menimbulkan kecemasan berat.

Apa Itu Ophidiophobia?

Ophidiophobia adalah istilah medis untuk ketakutan yang berlebihan terhadap ular.

Berbeda dengan takut ular secara normal, phobia ular melibatkan reaksi fisiologis seperti jantung berdebar, berkeringat, tremor, atau keinginan menghindar secara ekstrem.

Ophidiophobia bisa muncul sejak kecil ataupun berkembang di kemudian hari.

Gejala dan Dampak Phobia Ular

Orang dengan phobia ular biasanya menunjukkan gejala seperti:

• panik bahkan saat melihat gambar ular;

• menghindari tempat di mana ular mungkin muncul (kebun, hutan, atau rumah hewan);

• gangguan tidur atau pikiran yang terus-menerus tentang ular;

• gejala fisik seperti sesak nafas, mual, gemetar.
Dampak phobia ular tidak hanya psikologis, tapi juga sosial dan praktikal: bisa mempengaruhi hubungan, pekerjaan, dan rasa aman dalam kehidupan sehari-hari.

Penyebab Timbulnya Ketakutan Ular

Beberapa faktor yang sering dikaitkan dengan terjadinya phobia ular meliputi:

1. Pengalaman traumatis – pernah digigit ular, atau diserang ular, atau hanya menyaksikan kejadian tersebut.

2. Pembelajaran sosial – melihat atau mendengar ketakutan orang tua, teman, atau media terhadap ular dapat menularkan ketakutan tersebut.

3. Predisposisi biologis / evolusi – beberapa riset menyebut bahwa manusia mungkin memiliki kecenderungan bawaan untuk mengenali ular sebagai ancaman, sebagai bagian dari mekanisme pertahanan purba.

Diagnosa dan Terapi Exposure untuk Phobia Ular

Diagnosa phobia ular biasanya dilakukan oleh tenaga profesional kesehatan mental yang menilai:

• seberapa sering dan seberapa kuat ketakutan muncul;

• seberapa besar pengaruhnya terhadap kehidupan sehari-hari;

• durasi ketakutan lebih dari enam bulan.

Terapi exposure adalah salah satu pendekatan yang paling efektif. Dalam terapi exposure, pasien secara bertahap dihadapkan pada stimulus ular—mulai dari gambar, video, hingga tatap muka langsung dalam lingkungan yang terkendali—dengan dukungan psikoterapis.

Kombinasi dengan terapi perilaku kognitif (cognitive behavioural therapy / CBT) sering kali meningkatkan hasilnya.

Mengelola Ketakutan Ular dalam Kehidupan Sehari-hari

Beberapa strategi yang bisa membantu mereka yang mengalami phobia ular:

• Edukasi tentang ular supaya tahu mana yang berbahaya dan mana yang tidak.

• Teknik relaksasi: pernapasan dalam, meditasi, mindfulness.

• Paparan bertahap (exposure kecil) di lingkungan aman.

• Dukungan sosial: berbicara dengan orang yang dipercaya atau terapis.

• Bila perlu, penggunaan obat anti-kecemasan sebagai bantuan jangka pendek di bawah pengawasan profesional.

Phobia ular adalah jenis spesifik dari fobia yang dapat menimbulkan penderitaan psikologis dan membatasi aktivitas sehari-hari.

Dengan diagnosis yang tepat dan pendekatan terapi seperti exposure dan CBT, serta dukungan sosial dan teknik relaksasi, penderita phobia ular dapat mengelola ketakutan mereka dan meningkatkan kualitas hidupnya.

Penting bahwa liputan atau artikel mengenai phobia ular disajikan dengan akurat, berimbang, berdasarkan bukti, agar pembaca memperoleh pemahaman yang benar dan tidak menimbulkan stigma. (*)

Editor : Hardiyati Budi Anggraeni
#ophidiophobia #kecemasan #panik #Phobia ular