Advertorial Boks Daerah Ekonomi Bisnis Entertainment Hukum & Kriminal Internasional Kesehatan Kolom Lifestyle Nasional Nduk Olahraga Opini Pendidikan Politik & Pemerintahan Teknologi Visual Report Wisata & Kuliner

Bulan Perlahan Menjauh dari Bumi, Ilmuwan Ungkap Dampak Jangka Panjang yang Bisa Mengubah Fenomena Langit

M Robit Bilhaq • Kamis, 8 Januari 2026 | 12:00 WIB

ilustrasi seorang astronot di Bulan melambaikan tangan ke Bumi
ilustrasi seorang astronot di Bulan melambaikan tangan ke Bumi

RADARTUBAN - Ilmu astronomis menunjukkan fakta bahwa rentang jarak yang memisahkan antara planet Bumi dan bulan ternyata selalu berubah dan tidak pernah benar-benar statis.

Secara perlahan namun pasti, Seiring berjalannya waktu Bumi dan Bulan diketahui ternyata mengalami proses perenggangan jarak.

Fenomena tersebut bukanlah sekadar teori spekulatif, melainkan fakta yang didukung oleh data dari Lunar Laser Ranging Experiment.

Sejarah mencatat bahwa pada dekade 1960-an, misi luar angkasa Apollo telah menempatkan serangkaian alat pemantul atau reflektor di atas permukaan Bulan.

Tujuan utama dari pemasangan alat tersebut adalah agar para ilmuwan dapat memantau dan menghitung jarak presisi antara Bumi dan Bulan secara berkelanjutan.

Adapun metode yang digunakan untuk mengukur jarak tersebut dilakukan dengan cara menembakkan sinar laser dari Bumi menuju satelit tersebut.

Kemudian para ahli akan menghitung durasi waktu yang diperlukan oleh sinar tersebut untuk memantul kembali ke permukaan Bumi melalui reflektor yang telah terpasang.

Melalui rangkaian pengukuran yang dilakukan secara repetitif dan mendetail selama puluhan tahun.

Para peneliti berhasil mengonfirmasi sebuah temuan penting yaitu Bulan memang terus mengalami pergerakan menjauh dari gravitasi Bumi.

Meski pergerakan tersebut bergerak dalam kecepatan yang relatif sangat lamban, yakni hanya berkisar pada angka 3,8 sentimeter setiap tahunnya,

Akumulasi dari pergeseran akan memberikan dampak yang signifikan dalam skala waktu geologis.

Perubahan posisi Bulan yang kian menjauh tersebut diprediksi akan mengubah lanskap fenomena astronomi yang bisa disaksikan manusia di masa depan.

Melansir informasi dari IFL Science, salah satu konsekuensi paling dramatis adalah hilangnya kemungkinan untuk menyaksikan fenomena Gerhana Matahari Total dari permukaan Bumi.

Kemungkinan hilangnya gerhana total tersebut disebabkan oleh persepsi ukuran Bulan yang akan terlihat semakin mengecil di langit seiring dengan jaraknya yang kian merenggang.

Saat ini Kondisi masih memungkinkan kita untuk melihat Gerhana Matahari Total karena ukuran tampak Bulan di langit hampir identik dengan ukuran tampak Matahari.

Sebagai catatan tambahan, secara fisik jarak Matahari ke planet kita sebenarnya mencapai 400 kali lebih jauh dibandingkan jarak antara Bumi dan Bulan.

Namun, karena diameter Matahari juga secara kebetulan sekitar 400 kali lebih besar daripada diameter Bulan, kedua benda langit tersebut terlihat memiliki ukuran yang hampir sama jika dipandang dari perspektif manusia di daratan Bumi.

Sejarah kosmis memberikan gambaran yang lebih ekstrem yaitu pada masa sekitar 4 miliar tahun yang lalu, Bulan terlihat jauh lebih masif daripada penampakannya saat ini.

Sebelum satelit tersebut menempati posisi orbitnya yang sekarang, ukurannya nampak tiga kali lipat lebih besar jika dibandingkan dengan ukurannya saat ini.

Pada tahun 2017, Richard Vondrak, seorang ilmuwan terkemuka dari NASA, pernah memberikan penjelasan bahwa seiring dengan menjauhnya Bulan, kuantitas serta intensitas kemunculan Gerhana Matahari Total akan terus mengalami penurunan secara bertahap.

Richard memproyeksikan bahwa dalam kurun waktu sekitar 600 juta tahun mendatang, umat manusia atau penghuni Bumi di masa itu akan menjadi saksi bagi keindahan Gerhana Matahari Total yang terjadi untuk terakhir kalinya sebelum Bulan menjadi terlalu kecil untuk menutupi seluruh piringan Matahari.

Sebagai informasi tambahan bahwa, menjauhnya Bulan disebabkan oleh interaksi gravitasi yang disebut sebagai pengereman pasang surut (tidal braking), di mana energi dari rotasi Bumi mengalami perpindahan ke orbit Bulan.(*)

Editor : Hardiyati Budi Anggraeni
#ilmuan #bumi #astronomi #Gerhana #bulan