Advertorial Boks Daerah Ekonomi Bisnis Entertainment Hukum & Kriminal Internasional Kesehatan Kolom Lifestyle Nasional Nduk Olahraga Opini Pendidikan Politik & Pemerintahan Teknologi Visual Report Wisata & Kuliner

Berapa Lama Organ Tubuh Bertahan Setelah Kematian? Ini Penjelasan Ilmiahnya

M Robit Bilhaq • Minggu, 15 Februari 2026 | 20:05 WIB
Ilustrasi orang meninggal.
Ilustrasi orang meninggal.

RADARTUBAN - Tak sedikit orang menganggap bahwa saat seseorang mengembuskan napas terakhir, seluruh sistem dan bagian tubuhnya akan langsung berhenti beroperasi secara serentak.

Namun, berdasarkan uraian ilmiah yang dilansir oleh BBC Science, fakta yang terjadi sebenarnya jauh lebih kompleks dari sekadar dugaan tersebut.

Ditinjau dari sisi biologis, kematian ternyata prosesnya berlangsung secara berangsur-angsur atau bertahap.

Walaupun terdapat sejumlah organ yang memang berhenti berfungsi hanya dalam hitungan menit, terdapat pula bagian-bagian tubuh lainnya yang sanggup mempertahankan sisa kehidupan mereka dalam durasi yang jauh lebih lama daripada yang selama ini diperkirakan.

Organ yang mengalami kematian paling awal adalah otak beserta sel-sel sarafnya.

Hal ini dikarenakan keduanya memiliki ketergantungan yang sangat tinggi terhadap pasokan oksigen yang harus tersedia secara terus-menerus.

Seketika pernapasan terhenti dan distribusi oksigen terputus, sel-sel pada otak akan mulai mengalami kerusakan serta kematian hanya dalam hitungan menit.

Itulah alasan medis mengapa kondisi henti napas atau berhentinya detak jantung yang tidak segera mendapatkan pertolongan dapat memicu terjadinya kerusakan permanen pada otak dalam periode yang amat singkat.

Menyusul terhentinya fungsi otak, organ-organ vital lainnya akan menyusul mati secara bertahap.

Jantung merupakan organ selanjutnya yang kehilangan kemampuan fungsinya.

Terhentinya sirkulasi darah ini kemudian memberikan dampak berantai pada organ tubuh lainnya.

Organ-organ seperti hati, ginjal, serta pankreas tercatat masih mampu bertahan hidup hingga kisaran satu jam setelah kematian dinyatakan.

Fakta yang lebih mencengangkan adalah beberapa jaringan tubuh justru memiliki daya tahan yang jauh melampaui itu.

Bagian-bagian seperti kulit, tendon, katup pada jantung, hingga lapisan kornea mata teridentifikasi tetap hidup bahkan setelah lewat dari satu hari penuh.

Sementara itu, bagian dari tubuh manusia yang memiliki ketahanan paling lama adalah sel darah putih.

Berseberangan dengan organ-organ besar yang sangat mengandalkan asupan oksigen dan sirkulasi darah, sel darah putih memiliki sifat yang lebih "otonom" atau mandiri.

Berdasarkan uraian ilmiah tersebut, sel darah putih masih sanggup menunjukkan aktivitasnya hingga hampir tiga hari setelah seseorang meninggal dunia.

Temuan tersebut membuktikan bahwa kematian biologis bukanlah sebuah peristiwa yang terjadi dalam satu momen tunggal, tetapi adalah rangkaian proses yang kronologis.

Tiap-tiap organ dan jaringan tubuh manusia mempunyai ambang batas ketahanan yang berbeda-beda terhadap kondisi defisit oksigen maupun ketiadaan suplai energi.

Uraian tersebut memberikan perspektif mendalam terkait bagaimana dunia medis memetakan batasan antara kehidupan dan kematian.

Hal ini juga menjadi alasan fundamental mengapa prosedur kedokteran seperti transplantasi organ serta investigasi di bidang forensik sangat ditentukan oleh faktor kecepatan waktu.

Jadi, dapat dikatakan bahwa ketika ajal datang, tubuh manusia tidak serta-merta padam dalam satu detik yang sama.

Beberapa bagian di dalamnya masih tetap bertahan dan bekerja dalam kesunyian, sebelum pada akhirnya seluruh sistem benar-benar mencapai titik henti total. (*)

Editor : Yudha Satria Aditama
#otak #bbc #SEL #kematian