Tuduh Partai Arab Curangi Pemilu, Netanyahu Tak Terima Hasil Pemungutan Suara


RADARTUBAN – Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu menghadapi jalan politik yang belum pasti setelah blok pendukungnya gagal memperoleh mayoritas kursi parlemen dalam pemilu 27 Oktober 2026.
Di tengah upaya membentuk pemerintahan baru, partai Likud yang dipimpinnya justru mempersoalkan hasil pemungutan suara dengan menuding partai-partai Arab melakukan kecurangan.
Tuduhan tersebut disampaikan tanpa disertai bukti yang dipublikasikan. Netanyahu dan pendukungnya menyoroti sejumlah kasus dugaan suap pemilih serta kemungkinan campur tangan pihak asing.
Namun, otoritas pemilu Israel menegaskan bahwa penyelidikan atas dugaan tersebut tidak akan membatalkan hasil pemilu.
Baca Juga: Konser Andrea Bocelli Tetap Berlangsung, MUI Pertanyakan Keterlibatan dalam Acara Pro-Israel
Ketua Komite Pemilihan Umum Israel sekaligus Hakim Mahkamah Agung Noam Sohlberg menyampaikan penegasan itu dalam pernyataan bersama sejumlah pejabat, termasuk Jaksa Agung dan pimpinan badan intelijen Shin Bet.
Sohlberg menyatakan, sekalipun dugaan campur tangan asing terbukti, hal tersebut tidak serta-merta merusak integritas keseluruhan proses pemilu. Komite Pemilihan Umum juga menegaskan bahwa penyelidikan tidak menyasar kelompok masyarakat tertentu.
Pada perkembangan berikutnya, Komisi Pemilihan Umum Israel menyatakan tidak menemukan bukti kecurangan dalam pemungutan suara. Pernyataan tersebut semakin melemahkan tuduhan bahwa partai-partai Arab telah mencurangi hasil pemilu.
Tuduhan Suap Pemilih Jadi Sorotan
Likud mengaitkan tuduhan kecurangan dengan sejumlah penangkapan aktivis politik menjelang dan setelah pemungutan suara.
Salah satu kasus terjadi sebelum tempat pemungutan suara dibuka pada 27 Oktober. Tiga aktivis ditangkap karena diduga membawa amplop berisi uang tunai untuk menyuap pemilih.
Jadilah pembaca setia, gabung sekarang juga di channel kami!




