Advertorial Boks Daerah Ekonomi Bisnis Entertainment Hukum & Kriminal Internasional Kesehatan Kolom Lifestyle Nasional Nduk Olahraga Opini Pendidikan Politik & Pemerintahan Teknologi Visual Report Wisata & Kuliner

Alasan Skandinavia Jadi Negara Paling Tidak Religius tapi Paling Sejahtera, Begini Rahasianya

M. Afiqul Adib • Kamis, 29 Mei 2025 | 19:55 WIB
Inilah alasan Skandinavia jadi negara sejahtera padahal tidak religius.
Inilah alasan Skandinavia jadi negara sejahtera padahal tidak religius.

RADARTUBAN - Di dunia ini ada paradoks yang menarik dan bikin jidat berkerut: kenapa negara-negara paling nggak religius justru jadi yang paling sejahtera?

Negara-negara Skandinavia seperti Swedia, Norwegia, dan Denmark misalnya.

Secara statistik masuk dalam kategori negara dengan tingkat religiusitas paling rendah, tapi entah kenapa mereka selalu nangkring di daftar teratas negara paling bahagia, paling layak ditinggali, paling tinggi literasi, dan segala “paling” lainnya.

Lah, kok iso?

Kalau kita menengok data dan penelitian, termasuk yang ditulis Phil Zuckerman dalam bukunya “Masyarakat Tanpa Tuhan”, jawabannya cukup mencengangkan: religiusitas ternyata tidak selalu berkorelasi positif dengan kesejahteraan.

Di Skandinavia, agama memang ada secara administratif—kebanyakan menganut Kristen Lutheran—tapi praktik keagamaannya nyaris simbolik. Mereka datang ke gereja hanya untuk momen spesial kayak nikahan, itupun mungkin karena dekorasinya bagus buat difoto.

Jadi bukan berarti masyarakat Skandinavia ateis semua. Tapi mereka memilih untuk tidak menjadikan agama sebagai pusat kehidupan sosial maupun moral.

Nilai-nilai seperti kejujuran, gotong royong, integritas, dan tanggung jawab sosial lebih ditanamkan lewat budaya dan sistem pendidikan, bukan dari mimbar-mimbar tempat ibadah.

Saya jadi teringat kalimat legendaris dari Muhammad Abduh, seorang reformis Islam: “Saya melihat Islam di Eropa, tapi tidak melihat Muslim. Sebaliknya, saya melihat Muslim di Mesir, tapi tidak melihat Islam.”

Bisa jadi, Eropa yang dimaksud blio adalah Skandinavia—tempat di mana nilai-nilai Islam seperti keadilan sosial, kepedulian, dan transparansi malah dijalankan lebih serius dibanding negara-negara yang mayoritas penduduknya mengaku beragama.

Pertanyaannya, kenapa bisa begitu? Apa karena sistemnya yang sudah tertata rapi? Atau karena masyarakatnya yang lebih menghargai etika daripada dogma?

Jawabannya mungkin bukan salah satu, tapi gabungan keduanya. Di Skandinavia, negara hadir sebagai fasilitator yang adil: pajak tinggi dibayar dengan imbal balik yang setimpal seperti kesehatan dan pendidikan gratis.

Masyarakatnya pun dididik sejak kecil untuk berpikir kritis, terbuka, dan tidak bergantung pada “pahala dan dosa” sebagai satu-satunya pedoman moral.

Mereka punya kesadaran kolektif bahwa hidup bersama itu soal saling jaga dan saling hormat, bukan saling vonis dan saling klaim jalan surga.

Jadi ya wajar saja kalau kemudian mereka bisa hidup tenang tanpa merasa perlu menegaskan keimanan di tiap langkah.

Buat mereka, jadi orang baik bukan karena takut masuk neraka, tapi karena memang itu bagian dari cara hidup yang waras dan saling menguatkan.

Akhir kata, tulisan ini bukan ajakan buat jadi nggak religius.

Melainkan undangan untuk merefleksikan: jangan-jangan yang bikin kita tertinggal bukan karena kurang doa, tapi karena terlalu banyak menghakimi orang lain atas nama Tuhan hingga lupa membenahi sistem dan budaya kita sendiri.

Skandinavia bisa jadi nggak terlalu berdoa, tapi mereka tahu betul cara menjadi manusia.
___
Sumber: Buku “Masyarakat Tanpa Tuhan”, karya Phil. Zuckerman. (*)

Editor : Yudha Satria Aditama
#Skandinavia #swedia #norwegia #paradoks #religius #denmark