RADARTUBAN - Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump mengusulkan usulan rencana perdamaian untuk mengakhiri konflik yang telah berlangsung lama antara Rusia dan Ukraina.
Usulan tersebut dilaporkan mendapat sambutan positif dari Presiden Rusia Vladimir Putin, namun ditolak oleh Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky.
Rencana perdamaian yang belum dipublikasikan secara rinci ini terdiri dari 28 poin dan dikabarkan disusun secara rahasia oleh utusan khusus AS dan pejabat pemerintah AS.
Trump menyatakan bahwa rencana tersebut merupakan solusi yang baik bagi kedua belah pihak dan AS berkomitmen memberikan keterlibatan yang setara antara Moskow dan Kyiv dalam proses perdamaian ini.
Dalam pernyataan resmi yang disampaikan melalui Sekretaris Gedung Putih Karoline Leavitt, Trump menilai bahwa rencana itu akan diterima oleh Rusia dan Ukraina bila kedua pihak bersedia memberikan konsesi.
Hal ini termasuk kemungkinan penyerahan sebagian wilayah oleh Ukraina, sebuah syarat yang telah menjadi titik kontroversi dan mendapat persetujuan dari sekutu-sekutu Kyiv.
Sementara itu, Presiden Zelensky mengungkapkan ketidaksetujuannya atas usulan tersebut.
Dalam pernyataan yang dirilis melalui Telegram, Zelensky menegaskan bahwa Ukraina siap bekerja sama dengan AS untuk mengulas beberapa elemen rencana.
Namun penolakan terhadap beberapa poin yang dianggap merugikan kesejahteraan Ukraina tetap ditegaskan.
Zelensky bahkan menuntut jaminan keamanan yang jelas sebagai syarat perdamaian, sambil menyebutkan bahwa menghentikan pembunuhan adalah langkah mutlak untuk menuju resolusi damai.
Zelensky berencana melakukan diskusi langsung dengan Trump dalam beberapa hari mendatang untuk membahas secara rinci peluang diplomatik dan poin-poin penting yang diperlukan dalam rencana perdamaian tersebut.
Dia menyebut komitmen AS sangat penting dalam memastikan rencana tersebut adil bagi rakyat Ukraina.
Sementara pihak Rusia melalui Presiden Putin belum memberikan tanggapan publik secara resmi, laporan menyebutkan bahwa ia mendukung penuh inisiatif perdamaian dari Trump.
Termasuk adanya kemungkinan bagi Rusia untuk mendapatkan konsesi wilayah.
Usulan perdamaian ini mendapat kecaman dari beberapa negara Eropa yang menilai bahwa rencana tersebut terlalu menguntungkan Rusia dengan mengorbankan sebagian wilayah Ukraina.
Namun, AS menekankan perlunya kompromi dalam upaya mengakhiri konflik berdarah yang telah menimbulkan krisis kemanusiaan besar.
Rencana ini muncul setelah pembicaraan rahasia antara utusan AS dan Rusia yang menunjukkan adanya minat dari kedua pihak untuk mencapai kesepakatan meskipun penuh tantangan.
Dengan sikap yang berbeda-beda antara Putin yang menyambut baik dan Zelensky yang menolak sebagian besar isi rencana, masa depan perdamaian Rusia-Ukraina masih menyelimuti.
Namun, dialog yang difasilitasi AS menunjukkan harapan baru bagi penyelesaian konflik yang selama ini memicu ketegangan geopolitik global. (*)
Editor : Yudha Satria Aditama