Advertorial Boks Daerah Ekonomi Bisnis Entertainment Hukum & Kriminal Internasional Kesehatan Kolom Lifestyle Nasional Nduk Olahraga Opini Pendidikan Politik & Pemerintahan Teknologi Visual Report Wisata & Kuliner

Penjualan TikTok AS Masuki Tahap Akhir, Oracle dan Investor AS Ambil Kendali

Andika Julia Perdana Putra • Minggu, 21 Desember 2025 | 03:54 WIB
TikTok dipastikan akan tetap beroperasi di AS dengan struktur kepemilikan baru.
TikTok dipastikan akan tetap beroperasi di AS dengan struktur kepemilikan baru.

RADARTUBAN - Drama panjang mengenai penjualan TikTok di Amerika Serikat akhirnya kini telah mendekati garis akhir.

Platform berbagi video asal Tiongkok tersebut dikabarkan telah menandatangani kesepakatan untuk melepas sebagian besar operasinya di AS kepada perusahaan patungan yang dipimpin oleh para investor Amerika.

Berdasarkan memo internal yang dikirim CEO TikTok, Show Xi Chew, unit bisnis TikTok di AS akan dialihkan ke entitas baru bernama TikTok USDS Joint Venture LLC.

Kesepakatan ini ditargetkan akan rampung lada 22 Januari tahun depan sekaligus mengakhiri saga yang sudah bergulir sejak era Presiden Donald Trump pada tahun 2020.

Dalam struktur baru ini, Oracle, Silver Lake, dan perusahaan investasi asal Abu Dhabi MGX akan bertindak sebagai investor utama dan secara kolektif menguasai 45 persen saham TikTok di AS.

ByteDance sebagai induk perusahaan akan mempertahankan 19,9 persen saham, dan sekitar 30,1 persen akan dipegang oleh afiliasi ByteDance yang sudah ada. Kemudian sisanya akan dimiliki oleh investor baru lainnya.

TikTok mengatakan entitas baru tersebut akan beroperasi secara independen dengan kewenangan penuh atas perlindungan data pengguna di AS, keamanan alogaritme, hingga moderasi konten.

Sebagai bagian dari kesepakatan, TikTok di AS akan dilatih ulang menggunakan data pengguna di Amerika untuk mencegah potensi manipulasi dari pihak luar.

Selain itu, perusahaan Oracle juga ditunjuk langsung untuk mengawasi sistem perlindungan data pengguna TikTok di negara tersebut.

Langkah ini diharapkan dapat meredakan kekhawatiran pemerintah AS mengenai isu keamanan nasional yang mendorong lahirnya UU divestasi atau larangan TikTok pada tahun 2024.

Kendati begitu, banyak pihak masih mengkritik kesepakatan ini. Bahkan sejumlah anggota parlemen menilai struktur baru ini belum sepenuhnya menjamin privasi pengguna.

Sedangkan bagi TikTok sendiri, kesepakatan ini dapat menjaga keberlanjutan bisnisnya di Amerika Serikat yang kini telah menembus 170 juta pengguna.

Jika tidak ada hambatan, TikTok dipastikan akan tetap bertahan di AS tetapu dengan wajah kepemilikan baru. (*)

Editor : Hardiyati Budi Anggraeni
#oracle #Amerika Serikat #tiktok #investor amerika